Sunday, 22 April 2012

Nikmatnya berselingkuh dengan pria jantan

Sebelum nikah aku paling sering curhat ama bang Frans. Dia orangnya dewasa sekali, advis yang dikasi dia biasanya manjur kalo aku laksanakan. Sebenarnya aku ada hati juga ama bang Frans, tapi ya sudah keduluan suamiku ini. Bang Frans orangnya ganteng dengan badan atletis, tipeku banget deh. Suamiku itu termasuk kategori napsu besar tapi gak bisa lama, ampir tiap malem dia minta dipuasin napsunya. Tapi dia terkategori juga peltu, baru nempel dah metu (metu dalam bahasa jawa artinya keluar). Jadi aku belum berasa apa2 dia dah keluar, repotnya kalo dah keluar dia langsung ngorok, tinggal aku lah sendirian gigit jari. Sering setelah suamiku ngorok saking puasnya, aku ngilik it ilku sendiri, kadang bisa nyampe, kadang enggak. Kalo enggak bisa muasin diriku sendiri, aku jadi uring2an besoknya. Bang Frans tau kenapa aku uring2an terus dikantor, karena aku pernah cerita terus terang ama dia perihal letoynya suamiku di ranjang. Dia sih kasi advis, tapi advis itu kan mesti dijalankan oleh suamiku, dan suamiku gak mau ndengerin aku soal apa yang harus dilakukan sebelum dia masuk ke aku. Ya gak ada hasilnya lah. Sampelah pada suatu malem, kejadian yang sama terulang lagi, aku sebenarnya males ngeladenin napsunya, tapi namanya dah jadi istri ya aku ladenin juga napsunya dia dengan ogah2an. Dia gak perasa sama sekali, sikapku yang ogah2an ngeladenin dia gak diperhatikan karena dikepalanya cuma ada dia bisa keluar, that’s it. Setelah dia keluar, dia bilang mo keluar kota barang 2 minggu. Gila gak baru beberapa bulan nikah,aku mo ditinggalin 2 minggu. Tapi namanya juga karyawan, dia toh gak bisa nolak instruksi atasannya. Jadilah aku bete dan uring2an lagi di kantor. Bang Frans seperti biasa ketika makan siang bareng aku, menghiburku, “Sin, kan dah biasa suami kau cepet keluarnya, ngapain juga uring2an terus. Selama dia gak mau ngerubah pola dia maen ama kau ya akan gini terus. Ke dokter Naek Tobing aja (dokter ini katanya pakar urusan ranjang), siapa tau kalo advisnya dari dokter, suami kau mau nurut. Ni alamat prakteknya”, kata bang Frans sembari memberikan kartu nama si dokter itu. “Dia keluar kota bang”. “Jadi kau jablay dong Sin”. “Ih abang, orang lagi kesel juga”. “Sori deh”. “Nanti deh bang kalo dia dah pulang Sintia ajak ke dokter ini, mudahan aja dia mau. Wah nanti malem sepi banget ya sendirian”. “emangnya dari nikah baru kali ini kau sendirian ya Sin”. “Iya bang”. “Mo ditemenin?” Aku menatap wajahnya, matanya berbinar2 sembari tersenyum nakal. “Ntar abang nakal lagi kalo nemenin Sintia”. “Kan kau mau dinakali Sin, nakal yang bisa bikin kau terkapar”. “Kok terkapar bang?” “Iya terkapar karena lemes dan nikmat, itu kan yang kau cari selama ini”. “Bang, iseng aja sih, kataku sembari mukul pundaknya. “Aku gak iseng Sin, serius nih, kau mau gak?” “Tau ah”. Pembicaraan terputus sampe disitu karena waktu itirahat siang dah selesai. Kami meninggalkan tempat makan dan kembali ke tempat kerja masing2. Rupa2nya bang Frans pejuang yang gigih, karena aku gak ngasi dia jawaban, dia ndesek aku terus dengan menggunakan fasilitas intranet. Fasilitas itu membuat kita bisa chatting antar temen tanpa harus ngirim imel. Ada message masuk dari dia, “Mau gak Sin, aku dah lama sebenarnya pengen maen ma kau. Bodi kau merangsang banget sih”. “Bang lagi sibuk nih, emangnya gak ada kerjaan ya, kalo gak ada kerjaan bantuin Sintia mending”. “Iya aku bantuin”. Gak lama dia nongol di cubicle aku. “apa yang bisa aku bantu?” Aku memberikan sebagian kerjaanku ke dia, gak lama dia sudah menyelesaikan kerjaannya. Aku ngecek sebentar, dan semuanya sudah beres. “Ada lagi Sin yang bisa aku bantu?” “Gak ada lagi bang, ini mah kerjaan Sintia rutin, gak bisa dikerjain ma orang laen.” “Jadi boleh dong aku ngirim message lagi”, katanya sembari meninggalkan cublicleku. Gak lama nongol lagi message dari dia. “Gini Sin, kalo kau gak mau ditemenin di rumah kau, gimana kalo kita ke Bogor aja”. “Emangnya abang punya rumah disana?”, balesku. “Kita nginep aja di hotel. Kan Jumat besok libur, jadi bisa long weekend. Kita bisa berangkat nanti malem, Bogor deket ini”. “Abang banyak duit ya, mo nginep hotel segala, keluarga abang mo dikemanain?” “Aku juga jomblo dirumah. Keluargaku liburan kerumah mertuaku di Surabaya, memanfaatkan liburan panjang. Sekarang aja aku dah sendirian di rumah. Mau ya Sin. Aku jamin pasti kau ketagihan deh”. “Kalo Sintia bener ketagihan gimana.” “Ya kita cari kesempatan aja untuk memenuhi ketagihannya kau, biar gak uring2an terus. Daripada dirumah sendirian digigit nyamuk, mendingan juga aku yang gigit kau”. “Sakit dong digigit”. “Ya digigit enak dong sayang”. “Ih mulai deh pake sayang2an”. “Mau ya, Sin. Aku mo cari hotel yang sesuai dengan isi kantongku nih”. Aku tidak membalas message terakhirnya. Dasar gelo, gak lama lagi muncul lagi messagenya. “Diem artinya mau Sin. Aku dah ngebook hotel (dia nyebut nama hotelnya). Kita berangkat nanti bubaran kantor”. “aku kan belon bilang iya”, tapi giliran dia gak menjawab messageku. Bubaran kantor, dia dah cengar cengir nungguin aku. aku diantarnya pulang. Sepanjang jalan dia terus merayuku supaya aku mau ke Bogor dengannya. Akhirnya pertahananku berantakan juga karena desakannya yang pantang menyerah itu. Dia senang sekali. Dia membantu aku bebenah pakean yang akan kubawa nginep dengannya. aku berdebar2, tapi kutepis kekawatiranku dengan membayangkan bakal meregus kenikmatan dengannya. Aku akhirnya bisa melupakan kekawatiranku, ketika kami berangkat ke Bogor dari rumahnya. Sepanjang jalan dia ngajakin aku ngobrol hal yang ringan2, dia tidak menyinggung acara ranjang sama sekali, malah dia cerita humor yang rada jorok sehingga aku terpingkal2 dibuatnya. Jalan tol dalem kota yang macet tidak terasa karena aku sibuk tertawa berasam dia. Gak terasa, kami sudah diujung tol Jagorawi, ngantri mo bayar tol keluar Jagorawi. “Sin, kita cari makan dulu ya, biar gak usah keluar hotel lagi. Kan kita mo honeymoon”. “Honeymoon dari Hongkong, iya bang, Sintia dah kerasa laper nih”. “Kita cari makanan Sunda ya, kau suka kan?” Mobilnya meluncur membelah jalanan kota Bogor yang macet karena banyaknya angkot yang seliweran. Akhirnya mobilnya masuk ke pelataran parkir satu restoran Sunda. “Parkirannya penuh, artinya makanannya enak. Yuk turun”. Kami masuk di restoran itu, kami milih duduk yang lesehan sehingga berasa seperti makan di kampung. Restoran itu didekor dengan nuansa pedesaan dengan alunan suling dan degung Sunda. Nyaman sekali makan sembari lesehan seperti itu. Kami duduk bersebelahan, dia menyuapi aku, akupun ganti menyuapi dia. Rasa canggungku sudah gak ada sama sekali, apalagi kekawatiran mo maen dengan lelaki laen yang bukan suamiku, sudah hilang tanpa bekas dari pikiranku. Aku menjadi terhanyut karena pintarnya dia merayu aku. Selesai makan, kami mampir di toko restoran itu yang menjual makanan kecil dan minuman. “BIar gak usah beli lagi di hotel, di hotel kan lebih mahal dari diluaran”, katanya. Setelah selesai semuanya barulah kau meluncur ke hotel. Mobil diparkirkan oleh petugas valet, sementara kami cek in. Prosesnya berjalan mulus, sehingga setelah menerima kunci mobil dari petugas valet, kau diantar oleh roomboy ke kamar. Kamarnya sedeng2 aja, gak besar, fasilitasnya standar saja, tempat tidur besar, sofa, meja rias, tv dan lemari es. Kulihat kamar mandinya juga standar tanpa bathup, hanya shower saja, toilet dan wastafel. Baiknya masih disediakan sabun, odol dan sikat gigi. “Not bad kan kamarnya, gak mewah seh, disesuaikan dengan kantongku kan”. Aku masuk kamar mandi dan membersihkan badan, kukira dia akan mengikuti aku mandi, ternyata tidak. Selesai mandi aku hanya mengenakan daster tanpa bra. Memang bagian dada daster itu rendah sehingga kalo aku membungkuk, toketku yang besar montok itu seakan amu keluar dari dasterku. Memang dirumah aku biasanya pake daster seperti itu, sehingga bisa dimengerti kalo suamiku selalu napsu melihat aku seperti itu. Itu yang menjadi perhatian dia. Dia kemudian yang membersihkan diri, selesai mandi, dia mengeluarkan dvd player portabel yang dibawanya dari rumah. Ada film baru katanya. “Film apaan sih bang”, tanyaku sambil duduk di ranjang sambil nyandar di tepi ranjang. “Pokoknya seru deh, bule lawan orang sini”, jawabnya sambil memasukkan kepingan ke playernya, kemudian dia duduk diranjang juga disebelahku. “emangnya tinju”, tanyaku gak ngerti. “Bukan tinju tapi gulet”, jawabnya. “Kalo gulet, Sintia gak tertarik ah”, kataku sambil bangkit berdiri, tapi dia lebih cepat. Dia menarik tanganku supaya tetap duduk disebelahnya. Ternyata film itu “biru”, lakonnya bule dengan cewek yang tampangnya melayu. Ceweknya sih montok, toge pasar. Mereka sedang gulet dikolam renang, masih pake pakaian. Ceweknya pake bikini yang kelihatannya kekecilan sehingga toketnya yang besar seperti mau tumpah dari branya. Si lelaki bule pake celana pendek, kelihatan selangkangannya sudah gembung, pertanda kon tolnya sudah ngaceng. Panas juga aku ngeliat ulah ke2 “artis” film biru itu. Sambil cipokan mereka saling remas. “Seru kan, jarang ada film yang pemainnya cewek sini. Lagi mainnya sama bule lagi. Kau suka nonton film bokep ma suami kau Sin”, kata dia sambil merangkul pundakku. “Ampir gak pernah”. “Ah payah lah suami kau”. Ceweknya mulai ditelanjangi, dan si bule menjilat dan mengemut semua yang bisa dijilat dan diemut, baik yang atas maupun yang bawah, dan seperti lazimnya film biru, ceweknya mulai ber ah uh ria. Dia mulai melancarkan aksinya, rambut dan pundakku mulai dielusnya sambil merayu, “Sin, kau cantik. Harusnya kau jadi sekretaris, pasti dirubung lelaki di kantor”. Tiba2 dia mencium pipiku. “Ah, abang nakal ih”, kataku genit. “Tapi suka kan”, jawab dia sambil mempererat rangkulannya. Dia memegang daguku dan mukaku ditolehkan ke arah mukanya, kemudian perlahan dia mencium bibirku. Karena aku juga mulai panas menyaksikan adegan gulet di film, aku menyambut ciumannya dengan mengemut bibirnya.Karena aku memberi repons positif, tangannya mulai mengarah ke toketku, langsung saja diremasnya dari luar daster. karena aku tidak mengenakan bra, dia lebih leluasa meremas dan memlintir pentilku. Tangannya kemudian menyusup ke balik dasterku dari bagian dada dan makin getol saja tangannya menggarap toket dan pentilku. Dia melepas bibirku dan mulai menciumi telingaku dan terus ke leherku. Tahu dia bahwa telinga dan leher merupakan salah satu dari sekian banyak titik sensitif di tubuhku. Aku mulai melenguh menikmati ulahnya, pentilku mengeras karena terus diplintir2. “Bang, …” lenguhku. “Kenapa Sin, udah gak tahan ya, pengen dilanjut…” katanya sambil tersenyum. “Buka ya dasternya”, katanya sambil menarik dasterku keatas. Aku mengangkat tanganku keatas untuk mempermudah dia melepas dasterku. Dia melotot memandangi tubuhku yang hanya berbalut cd mini yang tipis. Karena CDku mini, jembutku yang lebat berhamburan dari bagian atas, kiri dan kanan CDku. “Jembut kau lebat ya Sin, pasti napsu kau besar ya”, katanya sambil mengemut2 pentilku sambil meremas toketku. “Toketmu kenceng ya Sin”, katanya. Sambil menikmati remasan tangannya, tanganku juga tidak tinggal diam, kuremas kon tolnya dari luar celana pendeknya. “Bang, ngacengnya sudah keras banget”, kataku. Aku sudah tidak bisa menahan napsuku lagi. Aku telentang diranjang, menunggu aksi selanjutnya. dia bangkit dan melepaskan t shirt dan celana pendeknya, sehingga tinggal cdnya yang melekat di tubuhnya. Tampak selangkangannya sangat menonjol, pertanda kon tolnya sudah ngaceng dengan penuh. Player dimatikan dan ia berbaring disebelahku, bibirku kembali diciumnya dengan penuh napsu dan tangannya kembali meremas2 toketku sambil memlintir2 pentilnya. “Isep dong bang..” pintaku sambil menyorongkan toketku itu ke wajahnya. Langsung toketku disepnya dengan penuh napsu. Pentilku dijiatinya.”Ohh.. Sstt..” erangku keenakan. Jarinya mulai mengelus jembutku yg nongol keluar dari CDku, kemudian disusupkannya ke dalam CD-ku. Jarinya langsung menyentuh belahan bibir me mekku dan digesek-gesekkan dari bawah ke atas. Gesekannya berakhir di it ilku sehingga menimbulkan kenikmatan yang luar biasa. me mekku langsung berlendir, “Oo.. Ooh! Uu.. Uuh!” desahku sambil menekan tangannya yang satunya untuk terus meremas-remas toketku. Aku sungguh sudah tidak tahan lagi, “Bang, Sintia udah gak tahan nih”. CD-ku didorong kebawah sampai terlepas dari kakiku. Aku mengangkat pantatku untuk mempermudah dia meloloskan penutup terakhir tubuhku. Kedua kaki kukangkangkan sehingga tampak jelas jembutku yang lebat. Dia kembali meraba dan mengelus me mekku. Dia menyelipkan jarinya ke belahan me mekku yang sudah basah dan menyentuh dinding dalam me mekkku. “Bang..! Aduuh! Sintia sudah enggak tahan, udah pengen dimasukkin”, pintaku. Bukannya langsung memenuhi permintaanku malah jarinya beralih menggosok-gosok it ilku. “Aduuh! abang..nakal!” seruku. Aku pun semakin tidak karuan, kuremas kon tolnya yang sudah keras sekali dari luar CD nya. Toketku yang sudah keras sekali terus saja diremas2, demikian juga pentilku. “Ayo dong bang dimasukin, Sintia sudah benar-benar enggak kuu..at!” rengekku lagi. Kemudian dimasukkannya jarinya ke dalam me mekku yang sudah basah kuyup. me mekku langsung dikorek2, dindingnya digaruk-garuk. Benjolan seukuran ibu jari yang tumbuh di dalam liang me mekku dimainkannya dengan ujung jarinya hingga badanku tiba-tiba menggigil keras dan kugoyang-goyangkan pantatku mengikuti permainan ujung jarinya. Dia menelungkup diselangkanganku dan mulutnya langsung mengulum bibir me mekku. Cairan yang membasahi sekitar selangkanganku dijilatinya dan setelah bersih bibirnya kembali mengulum bibir me mekku. Kemudian giliran it ilku mendapat giliran dikulum dan dilumat dengan mulutnya. Jari tangannya kembali menyeruak masuk ke dalam me mekku, aku benar-benar hampir pingsan dibuatnya. Tubuhku kembali terguncang hebat, kakiku jadi lemas semua, otot-otot perutku jadi kejang dan akhirnya aku nyampe, cairan me mekku yang banjir ditampung dengan mulutnya dan tanpa sedikit pun merasa jijik ditelan semuanya. Aku menghela napas panjang, dia masih dengan lahapnya melumat me mekku sampai akhirnya selangkanganku benar-benar bersih kembali. me mekku terus diusap2nya, demikian juga it ilku sehingga napsuku bangkit kembali. “Terus bang.. Enak..” desahku. “Ayo dong bang.. Sintia udah nggak tahan”. Tetapi dia masih tetap saja menjilati dan menghisap it illku sambil meremas2 toket dan pentilku. Dia melepaskan CDnya, kon tolnya yang lumayan panjang dan besar sudah ngaceng keras sekali mengangguk2. Aku dinaikinya dan segera dia mengarahkan kon tolnya ke me mekku. Perlahan dimasukkannya kepala kon tolnya. “Enak bang.” kataku dan dia sedikit demi sedikit meneroboskan kon tolnya ke me mekku yang sempit. me mekku terasa sesek karena kemasukan kon tol besar, setelah kira-kira masuk separuh lebih kon tolnya mulai dienjot keluar masuk. “Terus bang.. kon tolnya enak” erangku keenakan. Dia terus mengenjot me mekku sambil menyorongkan dadanya ke mulutku. Pentilnya kuhisap. Belum berapa lama dienjot, dia mengajak tukar posisi. Sekarang aku yang diatas. Kuarahkan me mekku ke kon tolnya yang tegak menantang. Dengan liar aku kemudian mengenjot tubuhku naik turun. Toketku yang montok bergoyang mengikuti enjotan badanku. Dia meremas toketku dan menghisap pentilnya dengan rakus. “Bang.. kon tolnya besar, keras banget..”, aku terus menggelinjang diatas tubuhnya. “Enak Sin?’ tanyanya. “Enak bang.. en totin Sintia terus bang..” Dia memegang pinggangku yang ramping dan menyodokkan kon tolnya dari bawah dengan cepat. Aku mengerang saking nikmatnya. Keringatku menetes membasahi tubuhnya. Akhirnya, “Sintia nyampe bang” jeritku saat tubuhku menegang merasakan nikmat yang luar biasa. Setelah itu tubuhku lunglai menimpa tubuhnya. Dia mengusap-usap rambutku sambil mencium bibirku. “Bang, nikmat sekali. Baru pertama ini Sintia ngerasain nikmatnya kon tol bang”.Setelah beberapa saat, kon tolnya yang masih ngaceng dicabut dari dari me mekku. Aku ditelentangkannya, dan dia naik ke atasku. Kembali me mekku dijilatinya. Kedua lututku didorongkannya sedikit ke atas sehingga bukit me mek ku lebih menungging menghadap ke atas, pahaku lebih dikangkangkannya lagi, dan lidahnya dijulurkan menyapu celah-celah me mekku. Lidahnya dijulurkan dan digesekkan naik turun diujung it il ku. Aku hanya bisa merasakan nikmatnya sambil meremas- remas kon tolnya dengan penuh nafsu. Cairan lendir yang keluar kembali dari me mekku dengan lahap dihisapnya. Bibirnya terus mencium dan melumat habis bibir me mekku. Dapat kurasakan hisapan mulutnya yang kuat menghisap me mekku, lidahnya menjulur masuk ke dalam me mekku dan sempat menyentuh dinding bagian dalamnya. Saking dalamnya mulutnya menekan me mekku, hidungnya yang mancung menempel dan menekan it ilku. Aku kembali merasakan kenikmatan lebih, apa lagi saat wajahnya dengan sengaja digeleng-gelengkan ke kiri dan ke kanan dengan posisi hidungnya tetap menempel di it ilku dan bibirnya tetap mengulum bibir me mekku sambil lidahnya terus mengorek me mek ku. Aku tak kuasa membendung napsuku. “Oocch! Bang.. Teruu.. Uus! Sintia nyampe lagi bang”, suaraku semakin parau saja. Kugoyangkan pantatku mengikuti irama gesekan wajahnya yang terbenam di selangkanganku. Kujepit kepalanya dengan pahaku, badanku menggigil hebat bagaikan orang kejang. Aku menarik nafas panjang sekali, semua cairan me mekku dihisap dan ditelannya dengan rakus sekali hingga habis. Kini dia membetulkan posisinya sehingga berada di atasku, kon tol nya sudah mengarah ke me mekku. Aku merasakan sentuhan ujung kon tolnya di me mekku, kepala kon tol nya terasa keras sekali. Dengan sekali dorongan, kepala kon tolnya langsung menusuk me mekku. Ditekannya sedikit kuat sehingga kepala kon tol nya terbenam ke dalam me mekku. Walau kon tol nya belum masuk semua, aku merasakan getaran-getaran yang membuat otot me mekku berdenyut, cairan yang membasahi me mekku membuat kon tolnya yang besar mudah sekali masuk ke dalam me mekku hingga dengan sekali dorongan lagi maka kon tolnya masuk kedalam sarangnya, blee.. ess.. Begitu merasa kon tolnya sudah memasuki me mek ku, kubalik badannya sehingga kembali aku berada di atas tubuhnya, kududuki batang kon tol nya yang cukup panjang itu. Kugoyangkan pantatku dan kuputar-putarkan, kukocok naik turun hingga kon tolnya keluar masuk me mekku, dia meremas- remas kedua toketku. Lebih nikmat rasanya ngen tot dengan posisi aku diatas karena aku bisa mengarahkan gesekan kon tol besarnya ke seluruh bagian me mekku termasuk it ilku. Kini giliran nya yang tidak tahan lagi dengan permainanku, ini dapat kulihat dari gelengan kepalanya menahan nikmat yang sebentar lagi tampaknya akan ngecret. Dan ternyata benar juga, dia memberikan aba-aba padaku bahwa dia akan ngecret, “Sin, aku dah mau ngecret, boleh didalem ya Sin”. “Ngecretin didalem aja bang, biar tambah nikmat. Kita nyampe sama-sama..bang”, rintihku sambil mempercepat kocokan dan goyangan pantatku. “Aa..Aacch!” Akupun nyampe lagi, kali ini secara bersamaan dengan dia, bibir me mekku berkedutan hingga meremas kon tolnya. Pejunya dan lendir me mekku bercampur menjadi satu membanjiri me mekku. Karena posisiku berada diatas, maka cairan kenikmatan itu mengalir keluar merembes melalui kon tolnya sehingga membasahi selangkanganku, banyak sekali dan kurasakan sedikit lengket-lengket agak kental cairan yang merembes keluar itu tadi. Kami berdua akhirnya terkulai lemas. Posisiku tengkurap disampingnya yang terkulai telentang. “Bang, pinter banget sih ngerangsang Sintia sampe berkali2 nyampe, udah gitu kon tol abang kalo udah masuk terasa sekali gesekannya, abis gede banget sih”, kataku. “me mekmu juga nikmat sekali Sin, peret banget deh, kerasa sekali cengkeramannya kekon tolku”, jawabnya sambil memelukku. Setelah selesai, aku bangkit dari tanjang ke kamar mandi, membersihkan sisa2 peju dan cairan me mekku yang melelh keluar. Lemes banget deh, bener kata bang Frans, nikmat itu membuat kita terkapar saking lemesnya. Aku berbaring di ranjang, sementara dia masuk ke kamar mandi. Karena cape, akhirnya aku tertidur. Tidak tahu berapa lama aku tertidur, tiba2 aku terbangun karena merasa toketku ada yang mengelus2. Aku terbangun dan melihat dia duduk disebelahku dan sedang mengelus2 toketku. “Cape ya Sin, sampe ketiduran”. Dia memelukku. Bibirku langsung dicipoknya. kusambut saja ciumannya. Toketku langsung menjadi sasaran remasannya. Pentilku segera mengeras dan diplintir2nya, napsuku mulai bangkit. Sambil meremas toketku, dia menjilati toketku, disedotnya pentilku sampai aku gemetar saking napsunya. Kakiku dan kedua pahaku yg mulus itu dibukanya sambil dielus2 dengan satu tangan masih meremas toketku. Setelah itu selangkanganku dijilati, “Nih jembut lebat banget sih, tapi aku suka kok ngen totin prempuan yang jembutnya lebat, apalagi toketnya besar seperti kau”. “Napa bang”, tanyaku terengah. “Cewek yang jembutnya lebat kan napsunya besar, suka binal kalo lagi dien tot”. “Bukannya binal bang, tapi menikmati”, jawabku. Bibir me mekku langsung dijilatnya, lidahnya juga masuk ke me mekku, aku jadi menggelinjang nggak terkontrol, wajahku memerah sambil terdongak keatas. kon tolnya sudah ngaceng lagi dengar kerasnya. “Bang kuat banget, baru aja ngecret dah keras gini lagi”. Aku hampir tak dapat memegangnya dengan kedua tanganku. “Dikocok Sin”, pintanya, aku nurut saja dan mengocok kon tolnya dengan gemas, makin lama makin membesar dan memanjang. “diemut dong”, katanya keenakan. aku duduk sambil mengarahkan kon tol yg ada digenggamanku ke arah mulut ku. Aku mencoba memasukkan kedalam mulutku dengan susah payah, karena besar sekali jadi kujilati dulu kepala kon tolnya. Dia mendesah2 sambil mendongakkan kepalanya. Kutanya “Kenapa bang”. “Enak banget, terus Sin, jangan berhenti”, ujarnya sambil merem melek kenikmatan. Aku jilatin kon tolnya mulai dari kepala kon tolnya sampai ke pangkal batang, aku terusin ke biji pelirnya, semua aku jilatin. Aku coba untuk memasukkan kedalam mulutku lagi, udah bisa masuk, udah licin terkena ludahku. Dia memegangi kepalaku dengan satu tangannya sambil memaju-mundurkan pantatnya, mengen toti mulutku. Sedang tangan satunya lagi meremas toketku sebelah kanan. Gerakannya semakin lama semakin cepat. Tiba2 dia menghentikan gerakannya. kon tolnya dikeluarkan dari mulutku. Dia menaiki tubuhku dan mengarahkan kon tolnya ke toketku, “Sin, aku mau ngerasain kon tol ku kejepit toket kau yang montok ya”. Aku paham apa yang dia mau, dan dia kemudian menjepit kon tolnya di antara toketku. “Ahh.. Enak Sin”, erangnya menahan nikmat jepitan toketku. Dia terus menggoyang kon tolnya maju mundur merasakan kekenyalan toketku. Sampai akhirnya “Aduh Sin, sebentar lagi aku mau ngecret, keluarin di mulut kau ya”. “Jangan bang, di me mek Sintia aja”, jawabku. Aku bukannya tidak ingin merasakan pejunya dimulutku, tapi lebih baik dingecretkan di me mekku, aku juga bisa ngerasain nikmat. Diapun naik keatasku sambil mengarahkan kon tolnya ke me mekku. Dia mulai memasukkan kon tolnya yang besar dan panjang itu ke me mekku. Pantatnya semakin didorong2, sampai aku merem melek keenakan ngerasain me mekku digesek kon tolnya. Dia mulai menggerakkan kon tolnya keluar dan masuk dime mekku yang sempit itu. “Wuah Sin, sempit betul me mekmu”, dia menggumam tak keruan. Aku mulai merasakan nikmat yg luar biasa. Lebih nikmat dari yang pertama tadi. Secara naluri aku gerakkan pantatku kekanan dan kekiri, mengikuti gerakan kon tolnya yg keluar masuk, wuihh tambah nikmat. Kulihat wajahnya menikmati sekali gesekkan kon tolnya di me mekku. Tubuhnya yg berada diatas tubuhku yang putih mulus, bergoyang-goyang maju mundur, dia memperhatikan kon tolnya sendiri yang sedang keluar masuk di me mekku. Selang beberapa saat, dia mengajak ganti posisi, aku pasrah aja. Aku disuruhnya nungging, dan dia menyodokkan kon tolnya dari belakang ke me mek ku. Enngghh…” desahnya tak keruan. Sambil menggoyang pantatnya maju mundur, dia memegangi pinggulku dengan erat, aku merasa nikmat yang luar biasa. Tidak tahu berapa lama dia menggenjot me mekku dari belakang seperti itu, makin lama makin keras sehingga akhirnya aku nyampe, “Bang, enjot yang keras, nikmat sekali rasanya”, jeritku. Dia mengenjot kon tolnya lebih cepat lagi dan kemudian pejunya muncrat didalam me mekku berulang-ulang, banyak sekali. ‘crottt, croooth.., crooootttthh…’ Aku merasa me mekku agak membengkak akibat disodok oleh kon tolya yang besar itu. Setelah istirahat beberapa saat, dia bertanya padaku “Gimana Sin? enak kan?”. “Enak sekali bang, rasanya nikmat sekali, me mek Sintia sampe sesek kemasukan kon tol abang, abis gede banget sih”, jawabku. Dia mencabut kon tolnya yang sudah lemes dari me mekku. kon tolnya berlumuran pejunya dan cairan me mekku. Mungkin saking banyaknya ngecretin pejunya dime mekku. Aku yang kelelahan hanya terkapar di ranjang. Tak lama kemudian aku tertidur lagi. Ketika aku bangun, hari udah terang. Segera aku kekamar mandi. Dia sedang gosok gigi. Melihat aku masuk kamar mandi, dia segera membersihkan busa odol dan memelukku. Hebatnya kon tolnya udah ngaceng lagi. “Sin sarapan yuk”, ajaknya sambil meremas2 toketku. Aku tau apa yang dia maksud dengan sarapan, ya ngen tot lagi lah. Leherku diciuminya dengan penuh napsu. Itu membuat napsuku juga bangkit dengan cepat. Dia segera duduk di toilet dan aku dipangkunya dalam posisi memunggunginya. Kuarahkan kon tolnya ke belahan bibir me mekku. Dengan menggunakan tanganku, kugesek- gesekkan ujung kon tolnya ke belahan bibir me mekku. Kutempelkan ujung kon tolnya ke ujung it ilku dan kugesek-gesekkan naik turun. Kini me mekku kembali mengeluarkan cairan bening. Kemudian kon tolnya yang sudah ngaceng keras kembali dimasukkannya ke dalam me mekku. Awalnya agak sulit juga kon tolnya masuk kedalam me mekku. Tetapi dengan sedikit bersusah payah akhirnya ujung kon tolnya berhasil menyeruak ke dalam me mekku yang kubantu dengan sedikit menekan badanku kebawah, dan kuangkat kembali pantatku hingga lama kelamaan akhirnya berhasil juga kon tolnya amblas semua ke dalam me mekku. Dengan posisi begini membuatku harus aktif mengocok kon tolnya dengan cara mengangkat dan menurunkan kembali pantatku, sehingga me mekku bisa meremas dan mengocok-ngocok kon tolnya. kon tolnya terasa sekali menggesek-gesek dinding bagian dalam me mekku. Saat aku duduk terlalu ke bawah, kon tolnya terasa sekali menusuk keras me mekku, nikmat yang kurasakan tidak dapat kulukiskan dengan kata-kata lagi. me mekku semakin lama semakin basah sehingga keberadaan kon tolnya dalam me mekku sudah tidak sesesak tadi. Kini aku pun sudah tidak kuat lagi menahan napsuku. Aku tidak mampu lagi mengangkat dan menurunkan pantatku seperti tadi, kini aku hanya bisa terduduk dalam posisi kon tolnya masih tertancap di dalam me mekku. Kugoyang-goyangkan saja pantatku sambil duduk di pangkuannya, persis seperti Inul menggoyangkan pinggul dan pantatnya, ngebor. Kedua tangannya sedari tadi asyik meremas kedua toketku. Pentilku dicubit dan dipilin-pilinnya sehingga menimbulkan sensasi tersendiri bagiku. Dia rupanya tidak mampu bertahan lama merasakan goyang ngebor gaya Inul yang kulakukan. “Aduuh..! Sin, hebat banget empotan me mek kau! Aku hampir ngecret nich!” serunya sambil tetap memilin pentilku. “Kita keluarin sama-sama yuk!” sahutku sambil mempercepat goyanganku. Dia rupanya sudah benar- benar tidak mampu bertahan lebih lama lagi hingga didorongnya aku sedikit ke depan sambil dia berdiri, sehingga posisiku menungging membelakanginya sambil berpegangan ke wastafel, tetapi kon tolnya masih menancap di dalam me mekku. Dia berdiri sambil mengambil alih permainan, dia mengocok-ngocokkan kon tolnya keluar masuk me mekku dalam posisi doggy style. “Aa.. Aacch!” kini giliranku yang menyeracau tidak karuan. Aku merasakan kedutan-kedutan di dalam me mekku, terasa sekali semburan hangat yang menerpa dinding me mekku, pejunya rupanya langsung muncrat keluar memenuhi me mekku. Bersamaan dengan itu, aku pun mengalami hal yang serupa, kurasakan kedutan me mekku berkali- kali saat aku nyampe. Kami nyampe dalam waktu hampir bersamaan hingga me mekku kembali penuh dengan cairan birahi kami berdua, saking penuhnya sehingga tidak tertampung seluruhnya. Cairan kami yang telah tercampur itu, meleleh keluar melalui celah me mekku dan merembes keluar hingga membasahi perutku karena posisiku masih setengah menungging saat itu. Kami pun melanjutkan mandi bersama-sama bagaikan sepasang pengantin baru. Setelah selesai mandi dan mengeringkan tubuh kami masing-masing dengan handuk. Aku segera memakai pakean dan keluar kamar bersamanya ke cafe untuk sarapan. Demikianlah selama di hotel sampe waktu cek out, dia membawaku berkali2 mereguk kenikmatan bersamanya. Staminanya luar biasa sehingga dia bisa berkali2 menggocek me mekku dengan kon tolnya sampe aku berkali2 nyampe. Sungguh kenikmatan yang melelahkan.

No comments:

Post a Comment