Tuesday, 20 March 2012

Pacarku yang Ganteng

Sebelumnya perkenalkan namaku Lily, umurku 21 tahun, dan bekerja di sebuah perusahaan penerbangan asing di Bali. Aku sadar wajahku ini sangat cantik, terbukti sejak SMP hingga sekarang banyak sekali cowok-cowok yang naksir dan berusaha mendekati aku namun tidak ada yang serius, dan aku cuek saja, kalau memang mereka serius mau kenalan sama aku, mungkin aku akan berpikiran lain. Didukung dengan kulitku yang putih bersih, tubuh yang langsing, rambut yang terurai panjang berwarna kemerahan… waahh.. lengkap sekali fisikku ini.

Aku sama sekali belum pernah mencoba melakukan onani, atau semacamnya, maka itu liang kewanitaanku masih sempit dan kecil, tanda aku masih perawan. Dan aku juga punya sepasang buah dada yang bulat dan kenyal dengan puting susu yang berwarna pink, serasi sama kulitku yang putih. Hingga pada akhirnya aku berkenalan sama Edwin, anak Indo blasteran bule yang pernah sekolah di Australia, dia orangnya… alamakk… guanteng sekali, body macho (sehingga berkesan melindungi), jantan, pokoknya bikin aku nggak tahan. Dia bekerja di sebuah perusahaan asing yang bergerak di bidang ekspor-impor, dan jam pulang kantornya bersamaan dengan jam pulangku (malam hari), maka suatu hari aku minta Edwin untuk menjemput aku sepulang dari kantor, sepanjang perjalanan menuju rumahku, tak henti-hentinya aku mengagumi Edwin, wajahnya, bodynya, semuanyaa… sambil ngomong ngalur ngidul, akhirnya sampai juga di rumah aku, and aku meminta (mungkin memaksa) Edwin agar mampir dulu, kebetulan aku tinggal sendirian, akhirnya Edwin pun mau mampir dulu. Akhirnya aku mandi dulu, sengaja aku bersihkan badanku sampai wangi, dengan sedikit menyemprotkan sedikit parfum Gucci Envy favoritku ke seluruh badan, akhirnya aku pun keluar dengan memakai kaos tipe you can see tanpa memakai BH, dan rok mini dengan celana dalam putih berenda.

Takut Edwin akan marah, karena meninggalkannya terlalu lama, aku berlari-lari kecil kearahnya, tampaknya Edwin melotot ketika aku sedang berlari, oohh… dia terkesima sama buah dadaku yang bergoyang-goyang dengan hebatnya ketika aku lari tadi. “Gilaa… kamu lari semuanya goyang-goyang,” tegur Edwin yang aku sambut dengan tertawa berderai-derai, “Yaahh… pikiran kamu sih ngeres terus!” jawab aku sekenanya. Aku lalu duduk di sebelah Edwin sambil menonton TV, “bosen nggak kamu dirumah sendirian??”, tanya Edwin, “bosen donk ahh!, namanya juga sendirian”, jawab aku, tak terasa sambil berbincang-bincang tangan aku terus menerus meremas-remas tangan Edwin yang besar dan berbulu itu, dan rasanya nih batin sudah napsu banget, aku pandangin aza wajah Edwin yang sedang sibuk bercerita, wajahnya tampaann sekali!, akhirnya aku nggak tahan, aku cium bibir Edwin, aku jilatin bibirnya, akhirnya dia mengalah dia juga buka mulutnya, sehingga aku makin bebas bertempur dengan lidahnya… ahh… nikmat sekali, aku rasa waktu itu aku lagi dalam puncak birahi, perlahan-lahan kedua tangan Edwin aku angkat dan taruh di kedua buah dadaku, aku putar-putar di situ, “Aarrgghh…”, Edwin melenguh, aku lalu menjilati pipinya, dan sambil tetap dalam posisi tangan Edwin di dadaku, aku langsung melepas bajuku, sehingga aku memperlihatkan buah dadaku yang indah ke hadapan Edwin, perlahan jariku mulai sibuk melepas dasi, kancing kemeja dan singlet Edwin, aku senang sekali ternyata dada Edwin bidang, dan keras, aku makin bernafsu, kulepas rokku, sehingga CD pinkku kelihatan dan aku lepas memperlihatkan liang kewanitaanku, lalu jariku mulai sibuk melepas sabuk, celana panjang dan CD Edwin, tanpa permisi langsung saja kutarik CD Edwin, sehingga penisnya yang sudah panjang dan keras berdiri tegak laksana tiang bendera, kepala penisnya merah berdenyut-denyut bagai jamur raksasa, aku yang sejak lahir belum pernah sama sekali melihat penis pria, sangat terkesima saat itu, akhirnya aku sudah nggak tahan, liang kewanitaanku sudah terasa senut-senut, aku gesek-gesekkan liang senggamaku ke penis Edwin sambil badanku menindih badan Edwin yang kekar, “aahh… ahh..”, aku berteriak karena aku sudah orgasme, liang kewanitaanku mengeluarkan cairan bening kental, aku lalu menghisap-hisap penis Edwin, aku kulum, hisap, aku puterin lidahku di kepala penisnya, “aahh… Lil… aku sudah nggak tahan Lil… Ahh…”, lenguh Edwin, lalu kami pun mengubah posisi, sekarang giliran Edwin yang menindihku, pertama-tama Edwin menjilati liang kewanitaanku, dan rasanya nggak kalah sama jilatanku tadi yang mebuatku nggak tahan “aduhh… ampuunn Win… cepet entot aku Win… entot aku…”, aku bereteriak-teriak memohon kepada Edwin, lalu aku melihat Edwin memegang penisnya yang panjang dan besar itu lalu… blass… aku pun berteriak kencang sekali, ooh… my!!! Edwin menyetubuhiku dengan perkasa dan jantan, karena liang kewanitaanku yang masih perawan dan sempit, agak susah payah Edwin memasukkan penisnya yang besar, keringat kami pun bercucuran, wajah Edwin memerah, rasanya nikmat, sakit, perih, senang, puas.. campur aduk jadi satu, akhirnya… jess… masuk sudah penis Edwin ke liang senggamaku, cairan merah mengalir deras dari liang senggamaku, itulah darah perawan pikirku, rasanya saat itu liang senggamaku menjepit keras penis Edwin, dan lumayan sakit rasanya sehingga aku meneteskan air mata, namun nikmaatt sekalii… Edwin pun mulai sibuk menggerakkan badannya maju mundur sambil berteriak “arrghh… arrgghh…”, sedangkan aku cuma bisa memelas “Win… ampuunn Win”, aku lalu aktif menjilati ketiak Edwin yang berbulu dan beraroma jantan, badan kami penuh peluh… akhirnyaa… uuhh… kami orgasme berbarengan, crett.. Crett… Edwin memuncratkan sperma-nya, rasanya keras sekali hingga sampai ke dalam perutku, sedangkan aku rasanya mengalami dua kali orgasme, aku senang sekali, rasanya aku sudah tidak sadar kalau masih berada di bumi, dan aku rela kalau akhirnya melahirkan anak-anak Edwin. Edwin kelelahan, dan aku capai sekali rasanya sudah 3 kali aku orgasme, perlahan kami tertidur sampai pagi, dalam keadaan penis Edwin masih di dalam liang senggamaku.

Itulah pengalamanku, akhirnya hubungan kami tidak berlangsung lama, Edwin dimutasikan perusahaannya ke Australia, sedangkan aku dimutasikan ke kantor pusat di Jakarta, hubungan kami berakhir sampai disitu, rasanya aku sedih dan kecewa. Sekarang aku masih sendiri, dan mengharapkan pria yang ganteng menemaniku.


TAMAT





5 comments: