Saturday, 31 March 2012

Namaku Elang 04

Sambungan dari bagian 03


Kereta tiba di Gambir telat, dengan buru-buru aku meloncat keluar. Dengan memanggul ransel Levi’s kuningku, aku nyaris berlari menuruni tangga. Srida berada di sebuah kursi sambil membaca novel Danielle Stelle. Dia mengenakan sack dress warna hitam dipadu blazer abu-abu.

“Hai”, sapaku.
Dia mengalihkan matanya dari bacaan, tersenyum malas kepadaku.
“Kita pergi sekarang.”
Kami pun melangkah.
“Kemana kita?” Tanyaku
“Terserah kamu.”
Aku bingung, memang tidak punya tujuan yang jelas yang kurencanakan. Aku hanya ingin berbicara dengannya. Kami naik taksi, masih belum jelas hendak kemana.
“Kita ke Pharaoh saja”, kataku.
“Di mana? Apa itu?”
“Acacia Hotel. Tempat karaoke.”
“Kita bukan hendak berkaraoke, Lang.”
“Iya. Aku hanya mencari tempat yang nikmat untuk bicara. Terserah nanti saja soal karaokenya.”
“Terserahmulah.”
Taksi pun menuju jalan Kramat Raya.
Di dalam taksi, Srida tidak banyak bersuara. Bungkam saja. Sesekali dia menguap.
“Kamu mengantuk?”
“Tidak.”
“Jangan berdusta.”
“Sedikit.”
“Kamu kurang tidur?”
“He eh. Kebanyakan ngobrol sama anak-anak.”
“Benar?”
“Tak tahulah. Aku merasa susah tidur. Pikiranku buntu, mumet.”
“Kalau aku penyebabnya, aku minta maaf.”

Dia kembali tersenyum malas.
“Begini deh. Kita jangan di karaokenya. Aku pesan kamar saja. Aku tidak mengajakmu menginap. Aku yang akan menginap di situ. Setahuku ada tayangan bola di sana. Kalau nanti kau ingin pulang, aku akan antar, setelah segalanya selesai.”
“Aku bisa pulang sendiri.”
“Whatever…”

Maka sesampai di Acacia Hotel, aku memesan kamar. Saat front office-nya bertanya jenis kamarnya, aku memesan kamar dengan dua tempat tidur. Biar lebih nikmat bagi Srida, pikirku. Sesampai di kamar, kupersilakan dia mandi. Tapi dia menolak. Aku tak memaksanya. Kami duduk di sepasang kursi, menatap keluar. Kolam renang tepat berada di bawah kami. Aku menatapnya. Dia mengalihkan pandangnya.
“Aku harus ngomong apa, Srida? Apa yang ingin kau ketahui?”
“Lang. Aku hanya ingin kejujuranmu.”
“Soal apa? Aku dan Venus?”
Dia mengangguk. Aku menghela nafas.
“Yang kau dengar dari Ilen benar, Srida. Aku memang telah bertunangan dengan Venus. Kami akan segera menikah. Tapi…”
“Mengapa kau tak berterus terang sebelumnya? Mengapa kau memberikan kepadaku harapan?”
“Kau tidak bertanya. Lelaki tak pernah berterus terang Srida, terutama jika tidak diminta.”
“Kau berbohong kepadaku, Lang.”
“Srida. Ini karena… karena, aku cinta padamu.”
Dia menatapku tajam. Sambil mengeluarkan sesuatu, sebungkus A-Mild. Mengeluarkan sebatang, dan menyulutnya.
Aku tak tahu dia mulai merokok.
“Jangan menipuku, Lang.” Asap mengepul dari mulutnya yang mungil.
“Sungguh. Aku tak pernah mencoba berbohong padamu. Aku cinta kau. Bukan saja sekarang, saat kita berjumpa lagi. Waktu kita masih kuliah, aku sudah mencintaimu. Tapi kau tak pernah menanggapi, larilah aku ke Venus. Dan, jujur, aku tak salah pula memilihnya.”
“Kenapa kau tak berterus terang dahulu?”
“Kau yang tak menanggapinya, Srida. Ingat, berapa kali aku menelponmu, mencari alasan untuk bertemu? Sayangnya Ilen tak pernah mau membantuku.”
“Kau dulu beda dengan yang sekarang, Lang.”
“Itu relatif, segalanya bisa berubah. Toh, aku tak pernah menduakan Venus. Sejak 93.”
“Dan sekarang? Denganku?”
“Kau berbeda, Srida. Aku mencintaimu sejak lama. Kau tak tahu bagaimana senangnya aku waktu pertama kali kau menelponku. Sumpah.”

Srida menatapku, mencoba mencari pembuktian kata-kataku. Aku menganggukkan kepalaku. Tersenyum.
“So, waktulah yang salah?”
“Ya.”
“Aku tak mengerti, Lang. Sejak kita bertemu kembali, hatiku tentram. Aku tak bisa mengenyahkan dirimu dari benakku. Makanya, saat Ilen bilang kau telah terikat, duniaku serasa diputarbalikkan. Gelap.”
“Jangan merasa seperti itu. Nanti akan ada orang yang lebih dariku.” Kujulurkan tanganku, meraih tangannya, “Singkirkan rokokmu, Srida. Tak pantas buatmu.”

Kuambil rokoknya, lalu kumatikan. Setelah itu tangannya kembali kugenggam, dia tidak menolak. Hatiku tambah tenang.
“Srida. Sampai saat ini pun aku masih mencintai kau.”
“Jangan, Lang.”
“Kenapa. Cinta bukan harus memiliki.” Genggamanku bertambah erat.
“Ya, kau benar. Cinta tak harus memiliki.”
“Srida. Aku punya permintaan. Maukah kau bersamaku malam ini. Hanya untuk sekedar bercakap-cakap, mengingat masa lalu?” Dia tak menjawab.
“Please…. Aku janji tidak akan melakukan sesuatu yang bodoh. Aku, aku hanya ingin merasakan kembali saat-saat yang tak pernah kumiliki. Masa yang harusnya dulu kita rasakan…. Please….”
Dia masih belum menjawab.
“Mau khan…? Please, Srida, please.”
“Baiklah.”

Jawaban yang sangat melegakan hati. Sumpah, aku tidak punya keinginan macam-macam dengan mengajaknya menginap. Sesuai dengan ucapanku tadi, aku hanya ingin bersamanya di sedikit waktu yang kami punya. Dan, aku berjanji dalam hatiku, tak akan melakukan hal-hal yang tidak dikehendakinya. Srida kemudian mandi. Keluar dari kamar mandi, dia telah memakai piyama cendek, dari bahan kaos warna putih dengan motif bunga-bunga biru. Tubuhnya memukau mataku. Dia tersenyum, melihat aku mengawasinya.
“Maaf ya atas pakaian tidurku ini.”
“Kamu tampak cantik dengan baju itu”
“Thanks.”

Kemudian aku mandi. Karena aku tidak membawa pakaian tidur satu pun, aku kembali memakai celana jeans-ku dan t-shirt putih. Lalu kami pesan makanan. Sop buntut, buah-buahan dan teh panas. Semangkuk kami habiskan berdua, karena dia malas makan. Dan malam itu, seperti bocah kecil, aku disuapinya. Selepas makan, kami berbincang sambil menonton TV. Aku di ranjangku, dia di ranjangnya. Pahanya yang putih terpampang jelas, karena dia belum memakai selimut. Dia tidak merokok lagi karena kularang tadi. Kami berbicara banyak hal. Dan anehnya, akhir-akhirnya pembicaraan kami membuat kami semakin menyadari kalau aku dan dia masih saling mencintai. Bahkan di diriku, rasa sayang itu bertambah besar.

“Lang, pindahlah ke sampingku. Agar bicaranya lebih nikmat.” Dia duduk dari tidurnya. Aku pun menurut. Yakin akan janjiku, aku pun berbaring di sebelahnya. Dia merebahkan kepalanya di bahuku, memelukku dengan lengannya. Aku baru sadar kalau dia tidak memakai bra, kebiasaan semua gadis dan wanita kalau hendak tidur. Tapi sungguh, itu tak membangkitkan gairahku.

“Bicaralah, Lang. Apa saja.”
Kami pun kembali bercakap-cakap, sampai suatu ketika, Srida mencium pipiku, bibirku. Aku menatapnya. Dia tak berkata-kata.
“Hei!” Aku memperingatkannya. Dia tertawa. Gemas aku melihatnya. Lantas kurengkuh tubuhnya, kupeluk erat. Dia menatapku, matanya meredup. Kucium bibirnya. Dia tidak mengadakan perlawanan, malah bibirnya membalas dengan penuh perasaan. Kami terhanyut. Tanganku bergerak aktif. Pikiran dan akal sehatku telah dibalut nafsu hewani. Kusentuh dadanya. Memegang dan meremasnya perlahan. Nafas Srida tak beraturan. Kuciumi pipinya, lalu lidahku telah bermain-main di telinganya. Srida memelukku erat. Satu tanganku menangkap bongkah pantatnya, mengusapnya. Lantas ke selangkangannya. Srida mengerang. Baju piyamanya kubuka. Kini tampaklah tubuh bagian atasnya yang polos. Putih kemilau, berpendar oleh cahaya lampu kamar. Aku mencium payudaranya, mulutku menggapai-gapai, bagai bayi mencari-cari puting susu ibu. Tangan Srida mencengkeram rambutku yang sedikit gondrong itu. Menekan kepalaku ke dadanya. Kuhisap payudaranya yang putih dan harum itu. Srida mengerang.
“Elang…”

Tanganku yang di pantatnya telah merayap, masuk melalui celah celana pendeknya. Merasakan sisi panty yang dipakainya. Aku bermain-main dengan pantatnya yang besar dan padat tersebut. Aku tak tahan. Ingin segera menghangatkan tubuhnya dan tubuhku. Aku duduk, membuka bajuku, dan mulai membuka kancing 501-ku. Saat itulah Srida menutup kembali piyamanya, mendorong tubuhku. Lalu membalikkan badan membelakangiku.

“Srida…”
“Kau ingkar janji, Elang”, katanya.
Yang membuatku kaget, ada isak tangis di situ.
“Tapi… tapi… kau yang memulainya.”
“Aku hanya mengujimu.”
“Mengapa kau menanggapi perlakuanku, Srida?”

Dia tidak menjawab, malah menutup wajahnya dengan bantal. Aku salah tingkah. Apalagi melihat badannya terguncang-guncang oleh tangis. Ooooh, apa yang terjadi. Beberapa saat yang lalu segalanya begitu manis.
Sialan, aku terlalu gegabah! Aku berusaha menenangkannya dengan kata-kata. Tapi tak ada reaksi darinya. Aku semakin kebingungan. Akhirnya kuputuskan untuk kembali ke tempat tidurku. Sesaat lama aku hanya dapat menonton TV tanpa memperhatikan acaranya. Channel demi channel kuganti. Bingung! Akhirnya kuambil rokoknya. Aku merokok. Bayangkan, aku yang sekian lama memusuhi asap rokok kali ini merokok gara-gara perempuan bernama Srida ini. Gila! Aku masih mencoba menenangkannya, membujuknya. Tapi Srida tetap tak berkata-kata. Akhirnya aku menyerah, kupadamkan lampu tidurku, memejamkan mata. Cukup lama sebelum aku jatuh tidur. Tak ada reaksi dari ranjang di seberangku. Brengseknya, aku tak dapat menonton partai Belanda malam itu. Huhh!

Tapi ketika sekitar pukul empat aku terbangun, kurasakan kehangatan tubuh seseorang memelukku. Aku kaget juga, masih antara sadar dan tidak. Dimana aku? Lalu aku sadari itu Srida. Dia masih tidur, memelukku dengan penuh damai. Aneh, kapan dia pindah. Aku sungguh tak sadar. Aku tak berani bergerak. Takut membangunkannya. Hanya kukecup keningnya. Dia tidak bergerak sampai pukul setengah lima lewat. Senyumnya terbit seiring fajar.
“Maafkan aku, Lang.” Dia berbisik ke telingaku.
Aku hanya mengangguk. Dia mengecup pipiku. Kali ini aku tak membalasnya, takut. Ragu. Kami setelah itu bercakap-cakap kembali. Mentertawakan kejadian semalam. Lalu kami mandi, dan sarapan di restoran. Bercakap-cakap kembali. Selepas itu, kami kembali ke kamar, bersiap-siap untuk ke kantor. Di kamar, aku menyalakan televisi, di MTV Shania Twain sedang menyanyikan You Still The One. Srida duduk di tepi tempat tidurku, menyisir rambutnya yang ikal. Sinar matahari dari jendela memantul di sekujur tubuhnya. sementara aku bersandar di dinding. Aku menatapnya, mengagumi keindahan yang ada di atas bed cover kuning gading itu. Sesaat lamanya aku tertegun. Ini adalah kali terakhir aku akan bertemu dirinya.
“Elang.” Suaranya membuyarkan lamunanku, “Cium aku untuk terakhir kali.” Aku mendekati, membungkuk, dan mencium bibir Srida. Kupegang wajah Srida dengan kedua tangan, seperti mengagumi objet d’art (karya seni). Srida memejamkan mata dan membuka mulutnya, mengecap lidahku. Oh, pikirku, aku tak ingin saat-saat ini berlalu. Srida meletakkan tangannya di punggungku, bertumpu di bahuku, kemudian turun ke bagian bawah punggung. Ia menyelipkan jemarinya ke bawah sabukku dan meletakkannya di sana, menikmati kehangatan dan kelembutan bokongku.

Lidahku perlahan bergerak memasuki mulutnya, menjelajahi bagian dalam mulut Srida, dan memegang wajahnya lebih erat.
“Srida”, erangku.
“Aku menikmati saat ini”, kataku dalam hati, sangat menikmati. Aku merasakan pikiranku akhirnya mulai menjauh dari rasa kesal dan ketidakpastian. Kepalaku terasa ringan. Tanganku perlahan mengelus lehernya, bahunya, kemudian memegang payudaranya dari samping, lembut. Srida mengerang, tampaknya merasakan kehangatan menyelimutinya, merasa terangsang. Sulit dipercaya kalau ini benar-benar terjadi, pikirku. Sulit dipercaya. Aku membuka kancing atas blus, membelai kulitnya dengan hangat, kemudian menciumi payudaranya.
“mmph”, erang Srida.
Srida menyelinapkan jemarinya ke balik underwear-ku, merasakan kerasnya bokongku namun berkulit bagaikan beledu. Pada saat yang sama aku meraih ke belakang punggungnya untuk membuka kancing blus Srida yang lain, kemudian melepaskan branya, dan Srida terbuai. Aku menanggalkan roknya dan membiarkannya jatuh ke lantai.

Pelan-pelan, sangat lambat, kepalaku bergerak turun sambil terus menciumi perut Srida dengan panas, terus hingga ke bawah pusar sambil melepaskan panty berwarna ungu Srida, dan… “Elang”, kata Srida, usaha sia-sia untuk mengontrol diri. Kepalaku bergerak maju mundur, kemudian naik turun. Srida menggerakkan pinggulnya, sementara titik-titik kenikmatan yang menggodanya semakin memuncak, menjadi gelombang tajam yang semakin lama semakin kuat dan besar. Tangan kiriku menyibak bulu-bulu halus di sekitar vaginanya, sementara yang kanan meremas-remas payudaranya yang lembut tapi telah mengeras itu. Putingnya kupermainkan dengan ibu jari dan telunjukku. “mmph.” Srida mengerang lembut. Menendang lepas sepasang sepatunya. Lidahku menjilati sebentuk daging berwarna merah muda yang mencuat dari balik lapisan vaginanya. Aroma lendir yang khas bermain-main di hidungku. Lendir itu telah bercampur dengan air ludahku.

Srida mengejang, pahanya dibuka lebar, mempermudah akses bagi lidahku untuk keluar masuk di pintu lubang kenikmatannya.
“mmph”, erangnya lagi, “Teruskan Lang, teruskan.”
Tangannya menggapai rambutku, meremasnya dengan penuh nafsu. Lidahku mulai memasuki celah vaginanya yang sangat sempit, kedua tanganku membuka tirai vaginanya, lalu kusodorkan lidahku, menjulur, berputar-putar di situ. Kurasakan cengkeraman tangan Srida di rambutku bertambah kencang.
“Uuugh, uuugh, Elang, nikmat Elang, uuuugh, terus Elang, terus!” dia telah tak sadar, meracau, berteriak-teriak penuh syahwat. Kejantananku terasa sesak dalam jeans yang kukenakan. Lidahku mengecap, suatu rasa yang tak dapat diungkapkan keunikannya. Rasa wanita dewasa, rasa segala kenikmatan dunia.

Lidahku terus bergelung di situ, mundur maju membakar gairah wanita ini, merasakan tekstur yang sungguh sensasional. Dia menjerit, meraung. Pinggulnya berputar, terkadang mendesak kepalaku. Seakan meminta lidahku menggapai lebih dalam lagi. Tangannya tak lagi mencengkeram rambutku, tapi telah mencakar seprai tempat tidur. Dengan mataku kulirik, mulutnya menggigit ujung bantal, menahan jeritnya agar tak lagi keluar. Lalu tubuhnya mengejang, sesaat kurasakan pinggulnya terlempar, menghantam wajahku dengan kelembutan bukit kemaluannya. Dia sudah sampai di ujung keindahan seksual manusia. Bau kewanitaannya semakin marak. Mengetahui dia sudah menikmati permainanku, kutarik keluar lidahku, menjauhkan kepalaku dari kewanitaan, sambil tetap memandangi bentuknya yang sempurna. Kukeluarkan sapu tangan dari saku celana, membersihkan lendir yang ada pada bibir dan hidungku. Srida menatapku sendu.
“Elang….”
Aku tersenyum, dia membalasnya lemah. Aku tak berhenti sampai di situ, kuciumi rambut kemaluannya, menciumi pahanya, lutut, bagian dalam betisnya, lalu kembali naik ke atas. Bermain-main dengan lidahku di perutnya yang lembut seperti sutra, lalu ke dadanya yang ranum merah muda, yang sekarang terdapat titik-titik merah darah di sekitarnya. Tanda orgasme, begitu orang bilang.


Bersambung ke bagian 05





7 comments:

  1. ... [Trackback]...

    [...] Read More: ceritaduniasex.info/namaku-elang-04/ [...]...

    ReplyDelete
    Replies