Sunday, 18 March 2012

Kisah Cintaku

Tahun 1986 adalah tahun dimana aku mulai menikmati bangku kuliah di salah satu perguruan tinggi yang cukup bergengsi di kota B, kebetulan aku berkenalan dengan dua orang gadis perantauan berasal dari kota C, yang satu bernama Yenni dan yang satunya lagi bernama Nani, keduanya kost disekitar kampus. Pada awalnya aku jatuh hati pada Yenni yang pendiam, mempunyai paras yang cantik, tinggi dan putih kulitnya dan aku sering main ketempat kostnya sehabis kuliah, di satu sisi Nani, yang cerewet, yang mempunyai tubuh yang seksi, tetapi parasnya tidak begitu cantik (tapi manis juga), serta kulitnya yang putih, selalu membayangi hubunganku dengan Yenni.

Akhirnya Yenni mengalah dan lebih banyak memberikan kesempatan kepada Nani untuk lebih dekat denganku. Namun aku bersikap cuek saja terhadap Nani. Setahun enam bulan sudah berlalu, hubungan kami masih biasa-biasa saja, alias tidak ada keseriusan. Sampai satu saat ketika aku dan Nani berada di dalam kamar kostnya, Nani menangis karena dia merasa sedih tidak bisa ikut pulang kampung bersama teman kost yang lainnya (kebetulan berasal dari satu daerah), aku merasa iba melihat dia, sehingga tanpa sadar aku berkata kepada dia, bahwa aku menyayangi dia. Eh, belum selesai aku berkata dia langsung memelukku. (Padahal aku mau berkata bahwa aku menyayangi dia seperti layaknya aku menyayangi adikku sendiri). Akhirnya kami berpelukan diselingi dengan berciuman.

Mulai saat itu Nani resmi menjadi pacarku, sebenarnya bukan rasa cinta yang aku rasakan, melainkan rasa kasihan (alias kebablasan ngomong). Hari demi hari kami lalui dengan penuh percekcokan, bahkan kadang-kadang dengan ancaman putus segala. Suatu hari ketika aku berkunjung ke tempat kostnya Nani, kami bertengkar karena aku terlambat datang, Nani mengancam akan pergi, dan membiarkan aku sendiri di kamar kostnya, pada saat dia berniat untuk meninggalkan aku, dengan sigap aku menarik badannya, namun apa daya tanpa sengaja aku menarik bajunya, dan braatt…, bajunya terbuka dan dua bukit mulus berukuran 32B yang masih tertutup bra yang berenda terlihat jelas. Aku tertegun sejenak (entah kagum, entah nyesel), sementara penisku sudah mulai menggeliat, dan Nani menangis sambil menutup kedua buah dadanya. Kami terdiam seribu bahasa, kemudian aku mulai mendekatinya dan memeluknya, dan aku berkata dengan penuh penyesalan: “nan, maafkan aku”, Tapi ternyata Nani menunggu saat seperti ini, dia mulai menghujani aku dengan ciuman, sampai akhirnya bibir Nani menyentuh bibirku. Mulailah dia mempermainkan lidahnya, serasa membersihkan seluruh rongga mulutku. Akupun tidak mau kalah langkah, aku mulai membuka baju Nani, kemudian mencari kancing bra nani yang kebetulan berada di depan belahan buah dadanya, sehingga terlihat dua bukit yang mulus menyembul keluar. Walaupun kecil ukurannya, ternyata buah dada Nani cukup padat dan berisi. Mulai tanganku bergerilya disekitar buah dadanya, sementara mulutku masih sibuk dengan lidahnya Nani. Aku mulai menundukan kepala dan mulai menciumi buah dada Nani, sambil terkadang menggigit puting buah dada yang masih berwarna merah muda. Nani mulai menggeliat, kemudian aku angkat badan dia, dan aku tempatkan dia diatas single bed-nya. Mulai aku menyosor kearah bawah, tapi Nani berkata “Jangan Jay, kita kan belum menikah”, tapi tangannya malah mendorong kepalaku mendekati dadanya, yang masih menggunakan ‘skirt’ warna hitam, dengan sigap aku lepaskan ‘skirt button’-nya dan aku tarik ke bawah, terlihat olehku blacky colour underwear yang berenda sesuai dengan branya, dan secara samar-samar aku melihat hutan berbentuk segitiga di balik underwearnya dan sedikit basah di sekitar selangkangannya, aku mulai menjilati bagian sekitar selangkangannya, dengan bau yang khas dan sedikit pesing (maklum kami melakukan jam 16.00, belum sempat mandi), dan Nani terus menggeliat sambil berkata: “Jay, oh…, Pelan-pelan sayang..” (Dalam hati aku mengumpat “sialan tadi bilang jangan sekarang sudah tahu gua malah nyuruh nerusin”), Nani mulai terangsang, badannya mulai menggelinjang tak karuan. Kemudian dia mulai menarikku naik keatas ranjang, dan mulailah dia membuka kancing baju kemejaku, kemudian mulai menciumi dadaku, pentilku dan turun menuju perutku. Tak lama kemudian dia mulai menyerang sarang penisku dengan terlebih dahulu membuka celana panjang dan Cd-ku, dan tanpa disuruh, penisku langsung menyembul keluar dan menegang. Nani dengan sigap (sepertinya dia sudah pengalaman) menyambar penisku. Dia mulai meremas-remas dan mengocok penisku. Ketika akan melakukan ‘sucking’ tiba-tiba pintu kamarnya di ketuk. Kami berdua spontan kaget mencari asset kami yang sudah terlepas. Akhirnya setelah kami berpakaian (dalam 3 menit) pintu di buka oleh Nani (walaupun sedikit ngos-ngosan dengan perasaan mengganjal). Ternyata teman kuliahnya bernama Suryawati, yang datang jauh-jauh mau ngajak Nani belajar bareng.

Semenjak kejadian itu kami tidak pernah mengulang kembali perbuatan itu, sampai satu ketika, pada saat Lebaran 1988 aku mengantar Nani pulang mudik ke kampung halamannya (kota C) dengan kendaraanku sendiri, kebetulan kendaraan umum yang menuju kota itu sudah penuh oleh pemudik lebaran. Sesampai di kota C, aku mengantarkan Nani ke rumah ortu angkatnya (karena dia sudah tidak punya ortu lagi, alias Bapaknya meninggal dunia, ibunya kawin lagi dengan orang di kota S), aku disambut hangat oleh ortu angkatnya dan mereka meminta aku menginap di rumahnya. Tapi aku merasa risih, dan aku minta agar aku diperbolehkan tinggal di hotel saja. Setelah berdebat masalah dimana aku tidur, akhirnya mereka menyetujui aku tinggal di Hotel. Aku mulai mencari hotel yang kira-kira sesuai dengan kantungku dengan ditemani oleh Nani. Kebetulan aku mendapat hotel yang agak pinggiran kota, tapi tak apa, yang penting bersih dan murah. Setelah check in, pelayan hotel mengira aku dan Nani adalah suami istri. “Den pengantin baru ya, kalau perlu apa-apa, Aden bisa panggil bapak”, kami menjawab dengan senyum, dan pelayan itu meninggalkan kamarku setelah kuberi tips. Akhirnya aku dan Nani berdua di dalam kamar hotel tersebut. Tanpa aku sadari Nani sudah memeluk punggungku dan mencium tengkukku, terus tangannya bergerilya membuka kancing baju disekitar dadaku. Aku pikir “Sialan juga ni cewek”, akhirnya aku membalikkan badanku kemudian menyambar bibirnya yang seksi, kemudian lidahku mulai berpetualang di dalam mulut Nani, tanganku mulai membuka ritsluiting baju terusan Nani, akhirnya risletingnya terbuka sampai punggungnya. Dengan sigap aku lepaskan bajunya, dan dia pun tidak mau kalah di lepas bajuku, ikat pinggangku dan celana panjangku. Kami berdua dalam kondisi ‘Siap tempur’, aku gendong dia menuju ranjang yang berukuran king-size dan aku merebahkan dia di atas ranjang. Mulai kubuka branya dan kujilati puting susunya dengan sekali-sekali diselingi dengan gigitan, Nani merintih “Achh…, Jay Jilati memekku, oh…”, Nani memintaku menuju ke daerah selangkangannya, aku mulai menciumi perutnya yang masih kencang, kemudian aku lepaskan ‘underwear’ nya, kulihat bulu kemaluannya yang halus dan tebal bagaikan wool dari Inggris. Aku jilati ‘daerah terlarang’nya, aku jilati klitorisnya, dan aku julurkan lidahku ke lubang kemaluannya. Nani menggelinjang hebat, sementara di sekitar liang kewanitaannya sudah mulai basah mengarah kepada banjir, hampir 20 menit aku bermain di sekitar klitoris dan lubang kemaluannya, Nani mengerang “agghh…” dengan tubuhnya terangkat. Kemudian dia bangun menarikku dan menciumi bibirku, sambil berkata “Jay, I aku mencintaimu, kamu hebat Joy.. oh…”, Nani mulai turun menciumi dan menjilati sekitar telingaku dan terus turun menuju leherku, dan bergerak terus, terus…, terus, menuju perut dan akhirnya dia membuka celana dalamku dan hup, penisku sudah berada di dalam mulutnya. Kemudian dia menghisap penisku dan menaik turunkan kepalanya. Sampai satu saat aku tidak tahan lagi aku berteriak ” Nan, a.. aa… ku mmaau keluar”, eh bukannya dilepaskan malahan goyangannya bertambah hebat sehingga aku mengeluarkan biang anakku di mulut Nani. Kemudian setelah puas Nani menghisap penisku, dia membersihkan penisku dengan jilatan lidahnya “oh, serasa mau pecah dunia ini…”. Setelah beristirahat beberapa saat, Nani mulai membangunkan penisku lagi, dengan posisi 69 aku tidak mau kalah, aku mainkan klitorisnya dengan tanganku, dengan lidahku. Kemudian Nani meminta aku memasukan penisku ke dalam kemaluannya “Jay, fuck me please…, please…” dengan penuh pengharapan.

Akhirnya aku kasihan juga dan kumasukkan penisku ke dalam liang senggamanya yang sudah basah, mulailah kami making love dengan berbagai macam gaya. Kemudian Nani memintaku memasukan penisku ke dalam anusnya, aku coba, tapi susahnya minta ampun, akhirnya kuambil cairan memek milik Nani dengan telapak tanganku dan aku usapkan pada penisku dan lubang anusnya. Setelah melalui perjuangan yang cukup lama akhirnya masuk juga, wah… rasanya nggak bisa aku lukiskan, pokoknya asyik. Ketika aku akan mencapai orgasme, Nani bilang “Jangan dulu sayang, kita keluarin sama-sama!”, akhirnya aku cabut penisku dari lubang anus, kemudian aku masukan kembali ke lubang senggama Nani, alamak, jauh rasanya, lebih enakan main di anus daripada di liang kewanitaan, ngeploss banget. Sampai akhirnya aku mencapai puncak dan Nani pun sama. Waktu aku bilang “Naan, mm mma… uu, kkeelluuaarr”, tadinya aku mau mengeluarkan di luar tapi kaki si Nani menahan pantatku sambil menggoyangkan pinggangnya yang semakin dahsyat, dan akhirnya aku tak kuat lagi “creett… creett… creett”, di ikuti dengan teriakan Nani “Agghh…, sayangku”. Tanpa sadar aku telah menyimpan deposito di rahim Nani, dan kulihat Nani tersenyum puas.


TAMAT





5 comments:

  1. I was looking everywhere and this poeppd up like nothing!

    ReplyDelete