Monday, 19 March 2012

Bodyguard

“Tom, kau dipanggil Boss,” kata Ronald teman seruangku.
“Ada apa ya, Ron?” tanyaku sekenanya.
Kumasuki ruang Bossku yang luas dan nyaman. Dihadapannya ada dua orang tamu pria yang sedang berbincang dengan Boss.
“Oh ya Tom, ini kenalkan Bapak Edward dan yang ini Bapak Kris. Tugasmu adalah mendampingi mereka selama 2 minggu kunjungan di kantor ini. Pokoknya coba bantu sepenuhnya segala keperluannya. Be carefull, okey!” kata Bossku.
Aku tidak bisa tanya atau menolak keinginannya. Pokoknya kerjakan saja, pasalnya Bossku itu mantan tentara. Selama tugas luarku, aku bebas dari kerjaanku sehari-hari. Ternyata Mr. Edward dan Mr. Kris adalah orang dari Kantor Pusat yang bertugas melakukan inspeksi. Kami semua repot dibuatnya. Tapi aku harus memberikan pengawalan kepada mereka berdua.

Suatu saat aku terpaksa harus kembali ke apartemen untuk mengambil tas kerja Mr.Edward. Dengan tergesa-gesa aku menuju ruang tidurnya. Kubuka lemarinya dan kuambil tas tersebut, tapi aku tiba-tiba terperangah melihat sebuah majalah pria bule bugil di dekatnya. Pikiranku segera paham tentang siapa Mr.Edward itu. Tapi sebagai utusan perusahaan aku tidak boleh mempermasalahkan hal itu. Aku segera bergegas ke tempat rapat di sebuah ruang VIP di hotel besar di Kuningan. Malam Minggu aku bebas dari tugas, karena bisa dibilang tugasku 24 jam selama 5 hari kerja mendampingi mereka berdua. Malam sudah larut, namun tiba-tiba HP-ku memanggil. Itu pasti panggilan tugas, karena untuk mendampingi mereka aku khusus disediakan HP dinas dan mobil sedan.

“Selamat malam, Pak. Ada yang bisa aku bantu?” tanyaku sopan.
“Ma’af, ini rumah Bapak Tommy?” tanya seseorang yang suaranya tidak kukenal.
“Betul, Pak. Ada kabar apa, Pak?” tanyaku lagi.
“Ma’af, apa Pak Tommy bisa kemari (ia menyebutkan nama hotel dan ruangnya) karena ternyata rekan bapak perlu diantar pulang.” lanjutnya.
Aku segera menuju ke sana. Ternyata mereka berdua sedang dalam kondisi setengah mabuk, dengan wajah yang sayu dan terbaring di sofa restroom. Setelah mereka yakin bahwa aku adalah yang dihubungi, maka aku dibiarkan saja di ruang itu.
“Terima kasih Pak,” kataku pada seorang satpam yang ternyata tadi menghubungiku.
“Saya antar mereka berdua pakai mobilku saja. Saya titipkan mobil mereka di sini, bisa nggak?” tanyaku pada satpam tadi.
“Beres, Pak. Nanti saya uruskan.”
Ia segera kuberikan kunci mobil yang tadi ada di kantong Mr. Kris.
“Tolong saya dibantu memapah mereka ke mobil,” pintaku.
Si satpam dengan sigap membantu memapah mereka satu persatu. Setelah memberi tips kutinggalkan hotel tersebut.

Sambil mengemudi kunyalakan lagu klasik. Sekali lagi aku terkejut manakala Mr. Edward memegang tanganku. Rupanya ia sudah hampir pulih kesadarannya.
“Ini di mana Tom?” tanyanya, dengan bau alkohol yang tajam.
“Dalam perjalanan pulang, Pak. Tadi Bapak minum berlebihan sehingga saya harus antar Bapak pulang,” jelasku perlahan.
“Thanks Tom,” lalu ia tertidur lagi.
Giliran di hotel, mereka aku minta bantuan bagian keamanan memapah mereka ke ruang masing-masing.
“Tom, tolong gantikan pakaianku,” pinta Mr.Edward.
Segera aku beranjak memilihkan pakaian kimono untuknya. Kulepaskan satu persatu pakaiannya yang basah oleh keringat dan tercium bau parfum “GUFO” bercampur alkohol. Kutinggalkan pakaian dalamnya yang berwarna hitam dengan lambang “G. Versace”, amat kontras dengan kulitnya yang putih bersih dan bulu-bulu lebat di dada dan seluruh tungkainya.
“Tom, tolong dibasuh dulu dengan air hangat,” katanya masih setengah mengantuk.
Akupun melakukannya. Dengan air hangat dan handuh halus perlahan kuusap-usap wajahnya pertama kali. Tampak olehku wajahnya yang tampan dan bersih tapi masih maskulin. Perlahan gerakanku bergerak ke bawah dan membasuh dadanya yang bidang. Posturnya proporsional walaupun tidak terlalu dilatih baik. Pasti banyak wanita yang mengandrunginya, kataku dalam hati. Tapi aku ingat pengalamanku tempo hari. Ah, bukan urusanku.

Akhirnya aku selesai membersihkan bagian depan tubuhnya. Segera kubalikkan tubuhnya dan sedikit terkejut, ternyata punggungnya pun ditumbuhi bulu-bulu cukup lebat sampai setengahnya. Seksi sekali dia! Kubasuh tubuhnya perlahan seakan takut membangunkan dirinya hingga seluruhnya. “Tom, tolong gantikan jockeyku,” tiba-tiba ia mengagetkan aku lagi dengan permintaannya.
“Baik, Pak,” kataku singkat saja.
Perlahan kutarik tali kecil CD-nya dan tampaklah kedua pinggulnya yang bulat dan ditumbuhi bulu dicelah pahanya sampai kesekitar “asshole”-nya. Lebat bulu-bulunya menghalangi pandangan mataku untuk dapat menikmati asshole-nya. Ah, seandainya… pikiran nakalku menari-nari menggodaku. Segera kupupus pikiran itu. Tapi aku tak kuasa menahan laju gerakan otomatis dibalik CD-ku, yang secara pasti mulai tumbuh membesar. Akh, aku harus menahannya. Karena pinggulnya belum kubasuh, maka dengan handuk hangat kubasuh perlahan. Kurasakan ia menggerakkan tubuhnya memeluk guling dan menarik sebuah kaki kanannya ke atas. Akh, tampaklah asshole-nya yang kemerahan menantang gairah nafsuku. Dan aku terkejut manakala kudapati tatoo kecil didekat asshole-nya bertuliskan “Please…” yang tertutup oleh lebatnya bulu-bulu tubuhnya. Membaca tatoo tersebut membuatku mulai berani bertindak lebih jauh. Kini usapanku bukan lagi untuk membersihkan tubuhnya, melainkan memberikan rangsangan nakal di daerah yang selalu menjadi daerah idamanku selama ini.

Kuambil lotion dan kupijat dengan teknik pijat gaya pijatan cinta yang pernah kupelajari dari sebuah buku. Kurasakan pinggulnya mulai bergerak perlahan merespon gerakan tanganku. Pinggulnya mulai terangkat dan kudengar bibirnya memanggil namaku pelan. Aku pun paham isyarat itu. Kini pijatanku mulai meluas ke bagian atas tubuhnya, pundaknya, lehernya, bahunya dan seterusnya. Lidahku dengan lihainya memberikan rangsangan di belakang telinganya. Ia mengerang dan menarik leherku dan menciumku dan melumat lidahku dengan ganasnya. Bau alkohol sudah tidak terasa olehku. Aku pun membalasnya dengan tak kalah hot-nya. Ia membalikkan tubuhnya dan menarikku di atasnya. Kami berciuman cukup lama sampai kami hampir kesulitan bernafas. Aku lalu bangun dan mulai membuka kancing kemejaku. Ia tampak mengagumi otot-otot tubuhku yang keras terlatih. Kini aku berada di pangkuannya dan kurasakan batang kemaluannya mengarah ke atas menggesek kemaluanku yang berontak ingin bebas. Sekali lagi kami berciuman dengan hot. Hanya desah nafas kami yang terdengar di ruang itu diiringi keringat yang banjir walaupun AC ruangan itu amat dingin.

“Tom, aku butuh kau. Please, Tom,” ia merengek manja di teligaku.
“Tapi Mr. Ed…” ucapanku dipotongnya dengan meletakkan sebuah jarinya di bibirku.
“Jangan panggil aku begitu saat ini. Panggil saja dengan “Sayang”, Tom. Edward ada di kantor saat ini, yang ada saat ini adalah aku apa adanya. Aku yang membutuhkan belaianmu, kehangatanmu, tubuhmu, cintamu. Lain tidak,” katanya lembut.
“Lepaskan pakaianmu semuanya, Tom. Aku ingin menikmatinya.”
Perlahan aku turun dan kulepas pakaianku. Kulihat tatap matanya hendak melahapku. Ia menarikku dan kuhampiri dirinya hingga kini aku duduk di atas dadanya dan ujung batang kemaluanku berada persis di depan wajahnya. Kupandangi wajahnya yang tampan dengan lahapnya melumat batang kemaluanku. Tak kusangka ia berusaha menelan seluruhnya, namun ia tiba-tiba “choking”. Tampak air mata mengalir di pipinya, mungkin menahan rasa ingin muntahnya. Kutahan wajahnya agar tidak melalakukannya lagi.
“Tom, kau ingin menyetubuhi aku?” tiba-tiba ia bertanya dengan lembut.
Aku menggeleng dan segera aku beringsut melakukan manuver lembut dengan memakai lidahku, bibirku dan belaian tanganku yang lembut mulai dari bagian atas tubuhnya.

Amat perlahan sehingga aku berulang kali mendengar namaku dipanggilnya karena sensasi nikmat yang dirasakannya.
“Tom, aku tak tahan. Tom… Tom…”
Aku tak pedulikan itu. Yang ada dalam pikiranku adalah kenikmatan tertinggi buatnya dan buatku malam itu. Berkali-kali ia mengangkat kedua kakinya tinggi-tinggi dan membuka lebar belahan pahanya untuk memberi kesempatan padaku. Namun kubiarkan saja, malah kulakukan ciuman lembut dan gigitan kecil di betisnya dan kakinya yang berbulu lebat. Ibu jari kakinya kuisap pelan dan lembut. Erangannya makin menggila. Setengah jam kuperlukan untuk menikmati keindahan tubuhnya dan sekaligus merangsangnya. Kubalikan tubuhnya perlahan dan ia pasrah total. Dan kini seranganku menjelajahi bagian tubuh belakangnya. Kadang kugigit dan kutarik bulu-bulunya dan ia mengerang manja dan memanggil namaku.

Lidahku kini mulai membelai asshole-nya, dan diangkatnya pinggulnya setinggi mungkin sehingga aku dengan leluasanya menikmati lubang idamanku. Kujulurkan lidahku ke arah asshole-nya dan kugelitik tepi lubangnya. Kusibakkan bongkahan pinggulnya nan putih indah dan kuremas, kugigit lembut.
“Gigit yang keras Tom. Keras, keras sekali,” pintanya.
Kulakukan permintaanya dan tampak kulit lembutnya kemerahan jadinya.
“Nikmat Tom, terus Tom.”
Tampak dia menikmati belaian lidahku di lubangnya sambil terus mengerang-erang.
“Tom aku nggak kuat, nggak kuaaatt, Tom.”
Kubiarkan ia mengerang nikmat.
“Please… Tom. Aku menginginkannya, Tom.”
“Aku ambil jelly dulu sayang,” kataku lembut.
“No, no, no! Aku ingin merasakannya apa adanya. Please, Tom.”
“Kau akan sakit nanti, sayang…”
Ia menggeleng sambil menatapku ke belakang.
“Fuck me, please…” katanya.
“Ini akan lama sekali, bolehkan?” tanyaku.
Ia menggumam. “Kalau kelamaan nanti kutinggal tidur lho, Tom,” katanya menggodaku.

Kini kuangkat sedikit pinggulnya untuk memudahkanku memasuki tubuhnya. Ia menurut dengan pasrahnya. Batangku yang kehitaman berurat kutempelkan di asshole-nya dan siap menyerang. Kugeser-geserkan dulu di sekitar lubangnya. Ia menggerakan pinggulnya berusaha mencari glans-ku dengan tak sabarnya. Kumainkan agar dia penasaran.
“Please, please, fuck me….Jangan lagi kau sisksa aku, Tom.”
Setelah puas melihatnya menantiku, mulailah penetrasi batang kemaluanku.
Ternyata sulit ditembus, dan ia kesakitan.
“Teruskan Tom, aku pasrah padamu.”
Kulakukan penetrasi lagi dan kini glans-ku yang merah maroon lenyap dalam tubuhnya. Kulihat ia menggigit bantal keras-keras dan keringat keluar bagai banjir di punggungnya.
“Kau kesakitan sayang. Aku nggak mau menyakitimu, Say…” kataku menggodanya.
“No, please. Fuck me, do’nt stopping fucking me, Tom.”
Seiring dengan berakhir ucapannya kubenamkan dengan keras seluruh batangku. Ia teriak keras kesakitan. Tampaknya ia tak menyangka serangan yang mendadak.
“Go, go, go, Tom.”
Dengan keras kukeluar-masukkan batangku berkali-kali dan kulihat batangku kini mengkilat indah. Kuciumi lehernya dengan lembut sambil kuhentakkan terus-menerus pinggulku ke arahnya dan ia tidak mungkin menghindarinya karena pinggangnya kupegangi erat-erat.

Kini kami berganti posisi ia menghadapku dan tusukan kerasku berlanjut. Kusetubuhi lagi tetap dengan keras dan terus-menerus. Ia mengerang-erang kadang teriak sambil menarik-narik rambutnya.
“Tom, oh thanks Tom…. More, more… please…”
Kurasakan spermanya berhamburan ke perutku, dadaku dan perutnya.
“Tom, habis sudah spermaku.”
Ia menunjukkan dua jari tangannya sebagai tanda ia mencapai puncak.
“Masih lama Tom?” tanyanya.
“Aku lelah sekali, tapi nikmatnya nggak dua.”
Aku senyum saja sambil terus mengacungkan batangku di asshole-nya. Kadang aku perlambat seranganku sambil kukecup dalam bibirnya.
“Masih lama, Tom? aku ketiduran lho nanti,” katanya.
“Boleh aku melanjutkan Sayang?” tanyaku.
Ia mengangguk.

Aku baru tersadar dan tidak tahu kalau Mr. Edward sudah tertidur, karena sayup-sayup kudengar dengkur halusnya saat aku masih melakukan serangan bertubi-tubi. Aku tak tahu bila ia tertidur karena saat itu sebuah kakinya kuangkat dan ia dalam posisi miring ke kiri. Aku tidak peduli karena ia sudah memberiku izin. Dan aku masih dapat merasakan remasan asshole-nya pada batangku sebagai pertanda dalam tidurnya pun ia masih merespon serangan rudalku. Cukup lama aku menari di dalam tubuhnya, sampai aku mulai merasakan lahar spermaku akan keluar.
“Sayang, terimalah hadiahku ini. Ohhh…”
Lega rasanya saat spemaku keluar dan rasanya aku tidak di bumi. Kucabut segera batangku yang masih mengeras dan segera kuselimuti tubuhnya dengan selimut tebal setelah sebelumnya kukeringkan keringatnya yang bak banjir itu hari menjelang pagi. Kulihat bibirnya yang indah tersenyum kecil.

Tiba-tiba phone di sebelah tempat tidur berbunyi. Saat kuangkat kudengar suara Mr. Kris di seberang sana.
“Tom, giliran aku kapannn…?” goda Mr. Kris.
“Besok bisa nggak…?”
Aku diam saja.
“Gila gua dikerjain rupanya!”
Belakangan aku jadi malu saat aku tahu mereka memasang mike kecil di bawah meja di samping tempat tidur Mr. Ed. Kokok ayam mulai terdengar saat aku meninggalkan hotel itu.


TAMAT

blackstud21



3 comments: