Thursday, 29 March 2012

Bi Asih 01

Waktu itu itu umur saya masih relatif muda kira-kira 14 tahun masih duduk di SMP kelas 3. Sejak SD saya sudah sering baca buku-buku porno yang stensilan pinjam dari teman-teman saya. Saya juga sering melihat foto-foto porno orang lagi begituan, kalau sudah baca buku porno penis saya keras dan tegang sekali rasanya.

Saya adalah anak ketiga kakak saya dua-duanya adalah cewek, waktu itu kakak saya dua-duanya sudah menikah karena umur mereka dengan umur saya cukup jauh sekitar beda 10 tahun dari kakak saya yang paling bungsu. Dan mereka sekarang tinggal bersama suaminya masing-masing. Jadi saya di rumah tinggal bersama ibu dan ayah. Saya termasuk anak yang bongsor karena untuk ukuran kelas 3 SMP badan saya sudah lebih tinggi dari ayah saya, terus juga tulang-tulang saya termasuk kekar dan besar.

Tapi yang paling saya tidak tahan adalah bentuk penis saya kalau lagi tegang. Besar sekali. Pernah saya ukur bersama teman saya waktu itu kita sama-sama telanjang di kamar mandi kolam renang dan waktu di bandingkan dengan penis teman-teman saya, penis saya paling panjang dan besar dan pernah saya ukur waktu itu kira-kira panjangnya 17 Cm.

Yang paling saya tidak tahan adalah kalau sedang di kelas saya suka memperhatikan Ibu Ina guru Bahasa Inggris. Kadang-kadang tanpa sadar kalau saya lihat itu ibu guru lagi duduk dan pahanya yang putih agak sedikit tersingkap penisku langsung mengeras dan menonjol ke depan kalau sudah begitu saya berdoa moga-moga jangan di suruh maju ke depan kelas.

Saya punya teman dekat sekelas namanya Joko, kita punya hobi dan khayalan yang sama. Sering cerita tentang buku porno yang kita baca, dan kita juga sama-sama tergila-gila pada ibu guru Ina yang berasal dari tanah minang. Kalau ibu guru Ina sedsang menulis di papan, kita berdua tertawa cekikikan memperhatikan betis Ibu Ina yang indah, putih dan berisi dan pinggulnya juga cukup besar dan padat. Gilanya kita berdua suka menghayal menjadi kekasih Ibu Ina dan melakukan hubungan seks seperti yang di buku-buku porno dengan Ibu Ina. Wah, kalau lagi menghayal berdua penis kita sampai keras sekali.

Teman saya si joko pernah menyarankan saya. “Eh Bram, lu kalau mau tahu rasanya hubungan seks sama Ibu Ina gampang.., caranya lu di kamar mandi bayangin Ibu Ina…, terus lu kocok penis lu pakai sabun”.
Karena ingin tahu waktu itu saya coba. Wah memang nikmat mula-mula, penis saya makin lama makin besar dan keras seperti batu, tapi sudah saya kocok-kocok sampai sejam lebih kok tidak keluar-keluar. Akhirnya saya bosan sendiri dan capek sendiri lalu esok harinya saya cerita pada joko, dia bilang, “Wah tidak normal loe…”, sejak itu beberapa kali saya coba pakai sabun tapi tidak pernah berhasil. Akhirnya saya jadi malas sendiri ngocok pakai sabun.

Nah, ini awal mula cerita saya. waktu itu pembantu rumah tangga saya keluar, terus ibu dapat lagi pembantu baru berasal dari Tasikmalaya, orang sunda, umurnya kira-kira 27 tahun. Orangnya memiliki kulit kuning langsat wajahnya cukup cantik apalagi kalau lagi tersenyum giginya putih terawat baik. Waktu baru mulai kerja aku nguping wawancaranya sama ibu saya, bahwa dia adalah janda tapi belum punya anak dia cerai dengan suaminya 3 tahun yang lalu, suaminya adalah orang kaya di kampungnya tapi umurnya pada waktu kawin dengan Bi Asih sudah berusia 60 tahun dan dia menikah kira-kira 4 tahun, sekarang cerai karena suaminya balik lagi pada istrinya yang tua.
Aku memanggil dia bibi Asih, dia pintar masak masakan kesukaanku seperti sop buntut wah nikmat sekali masakannya. Orangnya sopan dan ramah sekali. Hampir tidak pernah marah kalau digoda, tidak seperti mbok Laksmi pembantu saya yang sebelumnya, sudah tua tapi cerewetnya minta ampun.

Bibi Asih sudah 3 bulan kerja di rumahku, nampaknya dia cukup betah karena pekerjaannya juga tidak terlalu banyak cuma melayani saya, ibu dan ayah saya.
Nah waktu itu adalah hari Jum’at, ingat betul saya, ibu saya dapat telepon dari Jakarta bahwa kakak saya yang nomor dua sudah masuk rumah sakit bersalin mau melahirkan anak yang pertama.

Mereka pergi dengan Sopir kantor ayah saya ke Jjakarta jum’at sore. Aku tidak ikut soalnya sabtu besok aku ada pertandingan bola basket di sekolah. Jum’at malam aku sendirian di kamar kubaca buku porno sendirian di kamar. Wah cerita bagus sekali sambil membaca aku memegang penisku…, wah keras sekali.

Kira-kira jam 9.00 malam, badanku terasa gerah habis baca buku begituan. Aku keluar kamar untuk mendinginkan otakku, kebetulan kamarku dan kamar Bi Asih tidak terlalu jauh dan aku melihat pintunya agak sedikit terbuka.

Tiba-tiba timbul pikiran kotorku. Ah pingin tahu, gimana Bi Asih tidurnya. Kemudian aku berjingkat-jingkat mendatangi kamar tidur Bi Asih. Pelan-pelan aku dorong pintunya dan mengintip ke dalam, ternyata Bi Asih sedang tertidur dengan pulasnya. Lalu aku masuk ke dalam kamarnya. Kulihat Bi Asih tidur telentang, kakinya yang sebelah kiri agak ditekuk lututnya ke atas. Dia tidur menggunakan jarik kebaya tapi tidak terlalu ketat sehingga betisnya agak tersingkap sedikit. Aku perhatikan betisnya, kuning bersih dan lembut sekali. Kemudian aku coba mengintip ke dalam kebayanya, wah agak gelap hanya terlihat samar-samar celana dalam berwarna putih.

Aku menarik napas dan menelan ludah, kuperhatikan wajah Bi Asih kalau-kalau dia bangun tapi dia masih tidur dengan lelap. Lalu aku memberanikan diri memegang ujung kain kebayanya yang dekat betisnya tersebut. Sambil menahan napas aku angkat pelan-pelan kain kebaya tersebut ke atas lalu kusibak ke samping dan akhirnya terbukalah kain kebaya yang sebelah kiri dan tersingkap paha Bi Asih yang padat dan putih kekuning-kuningan. Aku kagum sekali melihat pahanya Bi Asih padat, putih dan berisi tidak ada bekas cacat sedikitpun. lalu aku pandang lagi wajah Bi Asih. Ah, dia masih lelap, aku memberanikan diri lagi membuka kain kebaya yang sebelah kanannya. Pelan-pelan aku tarik ke samping kanan dan akhirnya terbuka lagi.

Kini di hadapanku tampak kedua paha Bi Asih yang padat dan kuning langsat. Aku semakin berani dan pelan-pelan kain kebaya yang di ikat di perut Bi Asih aku buka perlahan-lahan, keringat dinginku keluar menahan ketegangan ini dan penisku semakin keras sekali. Akhirnya aku berhasil membuka ikatan itu, lalu kubuka ke kiri dan ke kanan. Kini terlihat Bi Asih tidur telentang dengan hanya di tutupi celana dalam saja. Aku benar-benar bernafsu sekali saat itu. Kulihat perut Bi Asih turun naik napasnya teratur. kulihat pusarnya bagus sekali, perutnya kecil kencang tidak ada lemaknya sedikitpun, agak sedikit berotot kali memang tapi pinggulnya agak melebar terutama yang di bagian pantatnya agak sedikit besar.

Bi Asih memakai celana nilon warna putih dan celana itu sepertinya agak sempit, mungkin ketarik ke belakang oleh pantatnya yang agak besar. Terlihat di bagian kemaluannya yang begitu ketat sehingga terbayang warna bulu-bulu vaginanya yang halus tidak terlalu banyak dan bentuk kemaluan Bi Asih yang agak sedikit menggunung seperti bukit kecil.

Pelan-pelan aku sentuh vagina bagian atasnya, terasa empuk dan hangat, lalu pelan-pelan kucium tapi belum sampai menempel kira-kira 1 milimeter di depan vagina tersebut. Wah tidak bau apa-apa, cuma agak terasa hangat saja hawanya. Kupandangi lagi vagina yang menggunung indah itu, ingin rasanya aku remas tapi aku takut dia bangun. Kulihat dia masih tidur nyenyak sekali dan kulihat dadanya membusung naik turun. Ah, aku ingin tahu gimana sich bentuk payudara dari Bi Asih. Pelan-pelan kubuka baju Bi Asih, tidak terlalu sulit karena dia hanya memakai peniti saja tiga biji dan satu persatu kubuka peniti tersebut lalu kugeser ke samping bajunya. Wah, terlihat dada sebelah kiri dan kubuka baju yang sebelah lagi. Kini Bi Asih betul-betul hampir telanjang tidur telentang di hadapanku.

Baru pertama kali dalam hidupku menyaksikan hal seperti ini. BH Bi Asih nampak sempit sekali menutupi buah dadanya yang padat dan berisi. Aku perhatikan buah dadanya, naik turun dan kulihat ternyata BH tersebut mempunyai kancing cantel dua buah di depannya tepat di tengah-tengah, di depan belahan dadanya, dengan agak gemetar aku buka pelan-pelan cantelannya satu lepas, dan ketika hendak membuka yang satunya lagi Bi Asih bergerak. Aku kaget sekali tapi dia tidak bangun kerena tidurnya yang begitu pulas,lalu aku memberanikan diri membuka cantelan yang satu lagi dan akhirnya terbuka.

Aduh, susunya indah sekali, besarnya hampir satu setengah kali bola tenis dengan warna putingnya agak merah muda. Bentuk susunya betul-betul bulat, menonjol ke depan. Aku pandangi terus kedua buah dada tersebut, indah sekali, apalagi Bi Asih memakai kalung tipis warna kunig emas dan liontinnya warna ungu itu tepat berada dekat buah dadanya. Serasi sekali.

Aku semakin bernafsu, jantungku bedegup kencang sekali. Ingin rasanya meremas buah dadanya tapi takut Bi Asih terbangun dan apa yang harus kulakukan bila dia bangun. Aku mulai takut saat itu, akan tetapi hawa nafsuku sudah memuncak saat itu. hingga lupa akan rasa maluku. Kini Bi Asih sudah setengah telanjang tinggal celana dalamnya saja. Aku ingin tahu juga seperti apa sih vagina perempuan. Terus terang aku seumur itu belum pernah melihat vagina asli kecuali di foto.

Aku cari akal bagaimana caranya msupaya bisa melihat vagina Bi Asih, tiba-tiba aku lihat di meja Bi Asih ada gunting kecil. Lalu kuambil gunting tesebut dan pelan-pelan aku masukan jari telunjukku ke samping celana Bi Asih di dekat selangkangannya, aku tarik pelan-pelan agar dia tidak terbangun. Terlihat selangkangannya berwarna putih bersih. Setelah agak tinggi aku tarik celana nilonnya aku masukan gunting dan pelan-pelan aku gunting celana dalamnya. Kira-kira 10 menit aku lakukan hal tersebut, akhirnya segitiga yang tepat di depan vagina Bi Asih putus juga kugunting dan kusingkap calana dalamnya ke atas.

Kini aku betul-betul melihat kemaluan Bi Asih tanpa sehelai benangpun. Vaginanya mempunyai bentuk yang rapat sekali sepertinya tidak ada lubangnya, bulunya halus tipis dan di bagian samping bibir kemaluannya putih bersih agak sedikit gelembung tapi belahannya betul-betul rapat. Wah, aku betul-betul sudah sangat bernafsu saat itu. Aku bingung ingin rasanya memegang vaginanya tapi takut dia bangun. Ah, aku nekat karena sudah tidak tahan kemudian kubuka celana pendekku dan celana dalamku. Penisku sudah berdiri tegak, besar seperti batu panjang dan keras. Lalu aku gosok-gosokkan penisku dengan tanganku sendiri sambil melihat payudara dan vagina Bi asih. Aku merasakan kenikmatan yang mulai menjalari seluruh tubuhku. Kugosok lagi dengan keras sambil membayangkan penisku sudah berada di dalam vagina Bi Asih, tapi tidak bisa juga keluar. hingga saat ini sudah 15 menit aku gosok-gosok penisku, akhirnya aku sudah tidak tahan dan nekat. Pelan-pelan aku naik ke tempat tidur Bi Asih. Aku ingat seminggu yang lalu Bi Asih pernah dibangunkan oleh ibu saya jam sepuluh malam waktu itu ibu saya mau minta tolong di kerokin. Nah, Bi Asih ini ketika di ketok-ketok pintunya sampai setengah jam baru bangun dan dia minta maaf, katanya dia kalau sudah tidur susah untuk di banguninya.

Ingat itu aku jadi agak berani mudah-mudahan malam ini dia susah bangun. Lalu dengan sedikit agak nekat kuangkat dan geser paha Bi Asih yang sebelah kanan agak melebar. Untung dia tidak bangun, benar-benar nich Bi Asih dalam hatiku punya penyakit tidur yang gawat. Kugeser terus sampai maksimal sehingga kini dia benar-benar mengangkang posisinya. Aku berlutut tepat di tengah-tengah selangkangannya. Pelan-pelan kutempelkan penisku di vagina Bi Asih tapi lubangnya kok tidak ada, aku agak bingung, pelan-pelan belahan dagingnya kubuka dengan jariku. Terlihat daging berwarna merah jambu lembut dan agak sedikit basah, tapi tidak kelihatan lubangnya, hanya daging berwarna merah muda dan ada yang agak sedikit menonjol seperti kacang merah bentuknya. Aku berpikir mungkin ini yang dinamakan clitoris oleh kawan-kawanku. Aku buka terus sampai agak ke bawah dan mentok tidak ada belahan lagi. Ternyata memang tidak ada lubangnya. Aku bingung, tapi aku sudah nafsu sekali. Lalu pelan-pelan kutempelkan kepala penisku ke vagina Bi Asih, ternyata ukuran penisku itu sepertinya terlalu besar sehingga jangankan bisa masuk baru di bagian luarnya saja rasanya belahan vagina Bi Asih sudah tidak muat.

Tapi apa yang kulakukan sudah kepalang basah, aku tempelkan kepala penisku ke vagina Bi Asih. Wah, tidak bisa masuk hanya menempel saja tapi aku bisa merasakan kelembutan daging bagian dalam vaginanya, aku gosok pelan-pelan dan vagina Bi Asih agak terbuka sedikit tapi tetap saja kepala penisku tidak bisa masuk. Aku benar-benar sudah lupa daratan dan gosokanku semakin kencang dan agak sedikit menekan ke dalam. Aku tidak sadar kalau Bi Asih bisa bangun. Akhirnya benar juga ketika aku agak menekan sedikit Bi Asih bangun dan dia sepertinya masih belum sadar betul, tapi beberapa detik kemudian dia baru sadar akan keadaan ini. Dia menjerit, “Den Bram ngapain…, aduh den tidak boleh den..”, pamali dia bilang, Lalu dia mendorong tubuhku ke samping dan cepat-cepat dia menutup buah dada dan kemaluannya.

Aku seperti di sambar petir saat itu, mukaku merah dan malu sekali saat itu, lalu kuambil celanaku dan lari terbirit-birit keluar dan langsung masuk ke dalam kamarku. Rasanya seperti mau kiamat saat itu, bagaimana ntar kalau Bi Asih mengadu ke orang tua saya. Wah mati saya.

Besok paginya aku bangun pagi-pagi lalu mandi dan langsung berangkat ke sekolah tanpa sarapan. Di sekolah saya lebih banyak diam dan melamun, bahkan ada teman saya yang mennggoda saya dengan mengolok saya, saya tarik kerah bajunya dan hampir saya pukul untung keburu di pisahkan oleh teman yang lain dan waktu pertandingan basket saya di keluarkan soalnya saya memukul salah satu pemain yang mendorong saya. Wah, benar-benar kacau pikiran saya saat itu. Biasanya saya pulang sekolah jam 12.30 tapi saya tidak langsung pulang, saya main dulu ke rumah teman saya sampai jam 5 sore baru saya pulang.

Sampai di rumah, Bi Asih sudah menunggu di depan rumah. Dia menyambutku, “Kok lama sekali pulangnya den…, Bi Asih sampe khawatir…, tadi ibu telepon dari Jakarta bilang bahwa mungkin pulang ke Bandungnya hari senin sore…, soalnya Mbak Rini (kakakku) masih belum melahirkan, diperkirakan mungkin hari minggu besok baru lahir”. Aku hanya tersenyum kecut, dalam hatiku Bi Asih tidak marah padaku…, baik sekali dia. Aku langsung masuk kamar dan mandi sore lalu tiduran di kamar.

Jam 7.00 malam Bi Asih mengetuk kamarku, “Den…, Den…, makan malamnya sudah siap..”. Aku keluar dan santap malam, lalu setelah selesai aku nonton TV. Bi Asih membereskan meja makan.

Selama dia membereskan meja, aku mencuri-curi pandang ke Bi Asih. Ah, dia ternyata cukup cantik juga, badannya sedang tidak tinggi dan bisa di bilang langsing hanya ukuran dada dan pinggul bisa dibilang cukup besar, benar-benar seperti gitar. Setelah selesai aku panggil dia, Bibi…, bi…, tolong dong aku di bikinin roti bakar.., aku masih laper nich”.
“Baik den”, lalu dia membuatkan aku roti bakar dua tangkap dan menghidangkannya di depanku dan langsung mau pergi, tapi aku segera memanggilnya, “Bi Asih jangan pergi dulu dong…”.
Dia jawab “Ada apa den…”.
“Ehmm, itu bi…, emm Bi Asih tadi cerita tidak sama ibu soal semalam”.
Dia tersenyum, “Wah mana berani bibi cerita…, kan kasian den Bram…, lagian kali Bi Asih juga bisa kena marah”, wah lega hatiku.
“Bi Asih makasih ya.., dan maaf ya yang tadi malam itu…, maaf celana bibi Asih rusak.., soalnya…, emm soalnya…”, aku tidak tahu harus ngomong apa. Tapi kelihatannya Bi Asih ini cukup bijaksana dia langsung menjawab, “Iya dech den Bi Asih ngerti kok itu namanya aden lagi puber…, ya khan..”, aku tertawa.
“Ah Bi Asih ini sok tahu ah..”, dia juga tersenyum terus bilang, “Den hati-hati kalau lagi puber…, jangan sampai terjerumus…”, Kembali aku tertawa…, “Terjerumus ke mana…, kalau ke tempat yang asyik sich aku tidak nolak…”.
Bi Asih melotot, “Eh jangan den…, tidak baik…”, Terus Bi Asih langsung menasehatiku
Dia bilang, “Maaf ya den Bram menurut bibi…, den Bram ini orangnya cukup ganteng…, pasti banyak teman-teman cewek den Bram yang naksir…, Bi Asih juga kalau masih sebaya den mungkin naksir juga sama den Bram hi.., hi.., hi.., nah, den Bram harus hati-hati.., jangan sampai terjebak…, terus di suruh kawin…, hayo mau ngasih makan apa”.

Tiba-tiba ada semacam perasaan aneh dalam diriku aku tidak tahu apa itu, lalu aku jadi agak sedikit berani dan kurang ajar sama Bi Asih.
Aku pandangi dia lalu aku bertanya, “Bi…, Bi Asih khan sudah pernah kawin khan…, gimana sich bi rasanya orang begituan..”. Bi Asih nampak terbelalak matanya dan mukanya agak besemu merah lalu aku sambung lagi, “Jangan marah ya bi.., soalnya aku benar-benar pingin tahu katanya teman-temanku rasanya seperti di sorga betul tidak”.
Bi Asih diam sebentar, “Ah tidak den selama Bi Asih kawin 4 tahun…, bibi tidak ngerasa apa-apa..”.
“Maksudnya gimana bi…, masa bibi tidak begituan sama suami Bi Asih..”.
“Eh maksud bibi…, iya begituan tapi.., tidak sampai 1 menit sudah selesai..”.
Aku semakin penasaran, “Ah masa bi…, terus itunya suami bibi sampai masuk ke dalam tidak..”
“Ehh ngaco kamu…”, dia tertawa tersipu-sipu.
“Ehmm, tidak kali ya…, soalnya baru di depan pintu sudah loyo…, hi hi…, eh sudah ah jangan ngomong begituan lagi..”, pamali dia bilang, “Lagian Bi Asih khan sudah cerai 3 tahun jadi sudah lupa rasanya..”, sambil tersenyum dia mau beranjak bangun dan pergi.
“Ehh bi.., bi.., bi tunggu dong…, temenin aku dulu dong..”, terus dia bilang, “Eh sudah besar kok masih di temenin, bibi sudah cape nich”, tapi setelah kubujuk-bujuk akhirnya dia mau menamiku nonton TV dan ngobrol ngalor-ngidul. Tidak terasa sudah jam 9.00 malam. Diluar mulai hujan deras sekali, dingin juga rasanya. Bi Asih pandai juga bercerita, cerita masa remajanya. Rupanya dia sempat juga mengeyam pendidikan sampai kelas 2 SMP.


Bersambung ke bagian 02





6 comments:

  1. Replies