Thursday, 29 March 2012

Antara Aku dan Andre 02

Sambungan dari bagian 02


Tak lama kemudian, ia dekap badanku erat ke badannya yang masih tertutup t-shirt putih dan CD-nya yang menutupi kemaluannya yang berukuran sedang itu. Lalu dia mulai menatap ke mataku kembali dan kami saling berpandang mata, perlahan tapi pasti akhirnya aku duluan yang mencium bibirnya dengan perlahan, kukecup bibir bawahnya sambil kukulum perlahan dan dia pun memainkan lidahnya perlahan, dan terasa tangannya mulai membuka kancing celanaku dan pada saat yang bersamaan celanaku dijulurkan ke bawah sehingga tinggal CD-ku yang berwarna biru tua dan terlihat kepala kemaluanku dengan ukuran sedang sedikit terlihat keluar dari ujung CD-ku.

“Bob… aku suka sama kamu!”
“Gombal,” jawabku.
Lalu kulepaskan pelukan dan menurunkan CD-ku untuk terus masuk ke kamar mandi dan membasuh seluruh tubuhku dengan air dingin, dan tak lama kemudian Andre pun masuk dalam keadaan bugil ke kamar mandi dan kami pun mandi bersama tanpa melakukan adegan seks terkecuali sesekali berciuman di bawah shower air dingin sambil menjulurkan lidahku sesaat ia menciumi leherku. Selang 2 menit, Andre selesai melakukan bilasnya dan segera keluar dari kamar mandi setelah mengeringkan badannya yang bertubuh atletis berwarna coklat mengkilap. Tak lama kemudian aku pun selesai membilas tubuhku dan mengeringkan sambil berkaca di hadapan kaca kamar mandi yang berukuran sekitar 2 meter.

Pada saat aku keluar dari pintu kamar mandi menuju ruang tidurnya yang masih bernyalakan lampu terang, kulihat Andre dengan sekujur tubuhnya yang atletis serta kemaluannya yang sudah ereksi telah berbaring sambil kedua tangannya berada di belakang kepalanya, berkata, “Sini Bob, tiduran yuk!” Lagu blues pun masih mengalun di ruang kamar tidur Andre dan aku bertanya kepadanya,
“Mas, apa punya cassette gamelan Jogja?”
“Hah! kenapa Bob? Kok gamelan? Apa maksudnya?”"Coba deh Mas pasang musik gamelan, ada nggak?!”
Ternyata Andre memiliki sejumlah cassette gamelan yang mana aku sangat menyukai gamelan pada saat suasana malam hari terutama bila sedang melakukan adegan cinta.
“Mas… coba deh nikmati gamelan sambil…” sambil aku tersenyum nakal.
Lalu suasana pun berubah dengan alunan bunyi musik gamelan yang terdengar sayup-sayup. Lampu besar pun dimatikan diganti dengan lampu yang redup tapi cukup terang sambil jendela dibuka hordennya, dan tak lama kemudian hujan gerimis pun tiba-tiba turun serasa udara di luar ikut menyambut ritual kami pada saat itu.

Dalam keadaan bugil dan keadaan kemaluanku pun dalam keadaan tegang dan keras, aku mulai menaiki ranjang dan perlahan dalam posisi seperti doggy style mendaratkan bibirku pada pipi Andre. Bibirku mulai berjalan di atas pipi Andre lalu menciumi lehernya yang beraroma pria dewasa sambil menjilat-jilat dari bagian belakang hingga ke bagian depan lehernya. Tiba-tiba kedua tangannya memeluk leherku dan tubuhku yang kecil terjatuh dalam dekapannya. Tanpa mengurangi waktu yang ada, aku mulai menciumi bagian telinganya sambil mengeluarkan lidahku perlahan di telinganya. Tampak wajah Mas Andre mulai meringis sedikit dan terdengar suara lirih, “Uhhh…” dan aku mulai mengeluarkan lidah setengah lebih panjang sambil menjilati telinga kanannya. Pelukan hangat dan erat dari Andre seakan membuat birahiku lebih tinggi dan kedua tanganku juga memeluk erat leher Mas Andre dan sesaat bibirku sudah menghinggapi pipi kanan darinya dan perlahan kukecup dengan halus bibirnya yang tebal sambil membuka mata menatap matanya yang terbuka besar memandang mataku. Tanpa berkata apa-apa, aku mulai kembali menciumi pipi kirinya sambil menjulurkan lidahku menjalar ke arah telinga kiri Andre, lalu kukecup perlahan telinganya dan ia pun mulai meringis, “Uhhh…” sambil setengah matanya tertutup dan bibirnya ternganga menikmati hasil jilatan dan kecupanku di telinganya.

Aku mulai menjilat-jilat lehernya dan menciumi lehernya bagian depan sambil sesekali menciumi hidungnya yang bangir, perlahan kuturunkan bibirku dan mendaratkannya ke bibirnya Andre. Ternyata kali ini Andre tidak tahan lagi, lalu dia membalikkan tubuhku dan kini ia berada di atasku, badannya yang coklat tua mengkilap berada sintal di atas tubuhku yang berwarna putih-kuning seperti kulit orang Chinese dengan mataku yang agak sipit aku meringis sedikit keberatan akan badannya. Namun semua itu terlupa pada saat bibirnya mulai melumat perlahan di bibirku dan bibir bawahku mulai dikenyot perlahan sambil dikulum dengan pintarnya seorang yang dewasa. Aku pun tidak mau kalau dengan memberikan balasan dengan semua keahlianku dalam seni berciuman. Lidahnya mulai memasuki rongga langit-langit mulutku sambil bermain membuatku geli-geli nikmat, lidah kami saling bermain di dalam rongga mulutku, sesekali kumainkan lidahku untuk mengusap gigi dan gusinya, lalu kumulai mengenyam bibirnya, kami saling bergantian dalam melakukan adegan ciuman tanpa memperdulikan suasana gerimis dengan alunan gamelan yang bernada mistik itu. Sambil berciuman, badan kami saling membalik dari kiri ke kanan dan dari posisi atas ke bawah saling bergantian, kadang halus seperti pasangan yang sedang berpacaran kadang buas seperti 2 ekor kucing yang sedang bertengkar, lalu tiba-tiba tangan Andre memegang kedua belah pipiku dan bibirku pun terlihat moncong ke depan, lalu langsung ia sedot seperti orang yang sedang rakus minum di sebuah botol Aqua, bibirku dilumatnya, dan… “Aauff… ahhh…”

Badannya yang atletis mulai menggesek tubuhku, sesekali terasa sekali kemaluan kami saling menggesek dan lipatan pahanya yang besar meliuk-liuk di antara pahaku yang tidak besar. Kemudian dia berhenti sejenak dan mengangkat badannya sambil menatap diriku dan tersenyum balik ke arah mataku, lalu katanya, “Bob kamu belajar dimana ciumannya? Aku tambah suka sama kamu,” lalu dikecup keningku dan tiba-tiba bibirnya yang tebal mulai melumat bibirku kembali tanpa memberikan aku kesempatan untuk bernafas sehingga aku meronta-ronta namun sia-sia saja sebab badannya terus menindih tubuhku. Namun aku tidak kehilangan akal, aku berusaha sekuat mungkin untuk membalikkan badanku dan kini aku yang berada di atasnya dan akulah kini yang memimpin untuk melumat dan mengunyah bibirnya dan bibirnya kusedot, kujilat dan kumainkan seperti melumat es krim, lidahku kujulur masuk ke dalam mulutnya sehingga ia pun menyedot lidahku. “Uughh…” terasa sekali kepandaiannya memainkan peranannya dalam permainan mulut ini. Aku mulai menjilat lehernya dan mulai rakus untuk mendapatkan telinganya, telinganya kujilat sedalam-dalamnya dan sebasah-basahnya sehingga ia pun berdesah, “Ahhh…” aku cuek saja dan terus menjilat telinga kiri lalu ke telinga kanan, dan tiba-tiba aku menyerang dan menyeruduk ke ketiaknya dan menjilat serta menyedot bulu ketiaknya yang hitam sambil kujilat-jilat dengan rakusnya dan lengan kanannya kuangkat ke belakang bergantian ke ketiak kiri. “Ahh… uhhh…” hanya itu yang terdengar dari rintihan kenikmatan yang ia peroleh dariku.

Tiba-tiba kedua tangannya mengelus halus ke kepalaku dan mengusap rambutku kembali dengan sayang dan aku pun mulai meringis bahagia dan jatuh ke badannya sambil menyayanginya, namun tiba-tiba dia mulai menyerangku dengan garang, dan kini ia berada di atasku, lidah Andre mulai menjulur ke telingaku, “Ahhh…” aku tidak tahan di telinga, kumulai meronta kegelian dan tubuhku menjalar kemana-mana, namun tangannya menahan tubuhku dan tiba-tiba lenganku pun diangkat dan ketiakku dijilat habis, “Aahh… aahh…” aku meringis sejadi-jadinya dan aku mulai melipatkan tubuhku ke tubuhnya yang atletis, lidahnya terus bermain sampai akhirnya berhenti di dada putingku. “Ahhh…” aku tidak tahan menahan kenikmatan itu, aku menyukai adegan itu. Dihisapnya puting-putingku dan aku menggeliat sejadi-jadinya sambil meremas rambutnya, “Ahh…” dia mengigit putingku, “Ahhh…” terasa sakit dan perih namun nikmat tersendiri yang aku rasakan. Rupanya semakin aku mengeluarkan suara rintihan dia semakin “hot” untuk menggigit serta sesekali menjilat puting kananku, lalu dia pindah ke dadaku sebelah kiri dan kejadian seperti tadi terulang kembali. “Ahh…” dengan kenikmatan yang tidak selamanya kudapati. Remasan tangannya pada dadaku juga terasa sekali, aku merasakan sesuatu yang nikmat-hangat-lembut-kasar dari Andre yang bertubuh coklat mengkilap. Silih berganti aku dan Andre saling menikmati satu sama lainnya. Tidak terasa waktu detik demi detik mengalun seirama kami berdua bergumul menyatu merasakan kenikmatan sesaat. Dan Pada puncak yang kami tunggu-tunggu mengalir dengan sendiri tanpa bias tertahan dan terhenti naluri buas dua anak manusia tertumpahkan sudah. Air kenikmatan dari Andre mengalir deras di perutku terasa hangat menyentuh kulitku dan aku pun sudah tak tertahankan lagi mengerang seakan dunia menjadi runtuh dan Andre pun menuntun batang kebanggaanku ke arah wajahnya, seakan dia menerima pancuran air bahagia di pagi hari, air kenikmatanku keluar dengan deras menerpa seluruh wajah Andre dan dia pun mengejang seirama deru nafas yang berlari kencang.

Kami berdua lunglai kecapaian dan tak berdaya, tenaga habis tanpa daya, tapi Mas Andreku melihat ke arahku sambil tersenyum dan berkata, “Saya bahagia sekali malam ini!” Dan dia pun berkata yang saya tidak sangka-sangka, “Maukah kamu menjadi pacarku, Sayang!” saya hanya terdiam tak percaya dan hanya anggukkan kecil tanpa kata-kata. Dan Mas Andreku kembali tersenyum memelukku sambil tidur bahagia! Mulai hari ini dan seterusnya hidupku mengalun di alam bahagia.


TAMAT

kallimutu



6 comments:

  1. Replies